Posted by: Slamet Santoso | 24 November 2010

Eksistensi dan esensi

Sahabatku di facebook, Didik T. Agus, menulis sebuah kalimat bijak dalam bahasa Arab di statusnya beberapa hari yang lalu.

“Kun kitaaban bilaa ‘unwaan, walaa takun ‘unwaanan bilaa kitaab”.
“Jadilah sebuah buku (meskipun) tanpa judul dan jangan (sekali-kali) menjadi judul yang tanpa buku”.

Sayangnya, aku ga bisa menemukan kalimat dalam bahasa Indonesia yang seindah kalimat aslinya dalam bahasa Arab.

Ketika aku minta dia menafsirkannya, ia malah memintaku menafsirkannya lebih jauh. Ya, sahabatku yang satu ini memang masih seperti yang dulu waktu sama-sama ngekos di daerah Cisitu, Bandung; pintar, sederhana dan rendah hati.

Tiba-tiba aku berfikir soal eksistensi. Apa aku ini? Apakah aku ini hadir dalam fikiran atau mewujud lewat jangkauan inderawi. Apakah aku ini hati, perasaan, ucapan dan perbuatanku yang terekam dalam fikiran ku dan orang sekitarku. Seperti Des Cartes yang berkata “I think, therefore I am”. Atau aku adalah aku yang tiap pagi berjalan menyusuri jalan Bangka menuju kantor dengan segala atribut fisiknya; baju, sepatu, kacamata dan dompet dengan segala kartu di dalamnya.

Stephen Covey, di buku nya “Seven habbits for the highly effective people” memberikan ilustrasi yang menarik tentang visi eksistensi pribadi dengan mengajak kita berimajinasi mengenai saat kita ada di peti mati. Bayangkan di saat itu ada berapa puluh, ratus atau ribu orang yang mengenal kita dan menangisi kepergian kita. Mereka menangis karena signifikansi kontribusi kita pada lingkungan. Atau berapa puluh, ratus atau ribu orang yang bergembira karena kematian kita. Mereka tertawa karena tingkah onar kita yang merugikan masyarakat sekitar akan segera lenyap bersama lenyapnya kita dari muka bumi. Atau tidak ada satupun manusia di bumi ini yang peduli; tidak tertawa, tidak juga menangisi kepergian kita.

Jika kematian adalah “judul” lenyapnya eksistensi kita di dunia, maka rekaman fikiran orang sekitar tentang jejak laku kita adalah “buku” catatan esensi dari eksistensi kita. Sungguh ilustrasi yang mengena.

Lihatlah sekitar.

Ada orang yang sibuk dengan “judul”. Ia kerahkan segala daya dan upaya untuk mencipta judul, sampai kehilangan kesempatan untuk menulis “buku” nya. Toh, ada saja masyarakat yang termanipulasi menikmati judul-judul itu.

Ada orang yang sibuk menulis “buku”. Ia sangat menikmati bahagianya berproses dan melihat bahagianya orang sekitar menikmati hasil proses, sampai tak terpikir apakah proses menyenangkan itu perlu sebuah “judul”. Ia memilih tidak dan menyembunyikan bukunya dari media. Namun, ingatan orang yang mendapatkan manfaat sudah cukup merekamnya. Dan Tuhan tidaklah buta dan tuli terhadapnya.

Ada orang yang bisa menulis buku dan mendapatkan judul yang pas, sehingga buku berjudul itu bisa dibaca dan diamalkan oleh banyak orang. Sungguh itu keberkahan duniawi dan ukhrawi.

Di tahun baru ini, ada baiknya kita berniat dan merencanakan menulis buku yang bermanfaat; buku yang kita tulis selama setahun, kemudian kita baca di akhir tahun. Semoga menjadi buku yang membahagiakan diri dan orang lain.

Selamat tahun baru hijriyah. Selamat menulis buku.

Posted by: Slamet Santoso | 24 November 2010

Awas ada maling di RT 1 RW 11

Malam itu Pak RT tiba-tiba bicara lain dari biasanya. Sambil nyicipin tempe goreng buatan Ibu Sriyem, Pak RT mulai menampakkan wajah seriusnya. Sikapnya diatur sangat berwibawa. Bicaranya pelan, tegas, bersuara bariton, runtut, dan kadang-kadang menggunakan istilah-istilah para pejabat di ibukota yang sering ia lihat di televisi. “Bapak-bapak, saudara-saudara warga RT 01 RW 11 yang saya hormati”, begitu ia mulai bicara. Pak Salim, hansip yang terkenal sangat loyal menjaga lingkungan langsung bersikap ta’zim, mencorongkan wajahnya sambil menghentikan kunyahan kue lapis yang potongannya masih di tangan kirinya. Tangan kananya juga tak bergerak masih menggenggam gelas separoh isi. Ruangan langsung hening. Pak RT melanjutkan “Besok malam minggu, saya mensinyalir ada maling yang akan merongrong kewibawaan saya sebagai ketua RT”. Saya tahu persis namanya, akan maling di mana, dan dengan tujuan apa”, dengan nada sangat meyakinkan. Pak Salim kelihatan mencoba menebak untuk mengetahui duduk perkaranya, tapi ia mengusahakan tidak seperti orang tolol yang tak tahu persoalan. Dari tercenung, ia kemudian manggut-manggut. Pak Imron, sang tuan rumah tak kalah sikapnya dari Pak Salim. Ia ambil buku kecilnya, terus mencatat. Hanya beberapa warga, seperti Pak Sadli dan teman-temannya yang bingung dan tak malu menampakkan kebingungannya. “Kok bisa, ya Pak RT ngomong begitu di depan warga? Apa ga bikin resah nantinya? Kalau sudah tahu, ya kenapa ga didatangi aja si calon malingnya daripada menebar berita ramalan ke khalayak warga RT?”, begitulah sejumlah pertanyaan yang berkecamuk di fikiran Pak Sadli.

Ya, memang Pak RT bukanlah Pak Sadli. Pak RT tidak boleh sembarangan, tanpa dasar hukum yang jelas, mendatangi si calon maling dan menuduhnya. Ia bisa kena pasal pencemaran nama baik. Pak RT tahu persis bagaimana bersikap aman di jaman demokrasi seperti saat ini. Mendingan ia pergunakan upaya yang lebih elegan melalui forum. Pertama, ia perlu menyampaikan pesan kepada warga bahwa sebagai ketua RT, ia orang yang sangat memperhatikan keamanan lingkungan. Sekecil apapun potensi ketidak-amanan harus diwaspadai. Itulah gunanya Pak Salim, sebagai hansip. Kedua, ia perlu menyampaikan peringatan kepada calon maling bahwa ia mengetahui niat si calon maling dan jangan berani-berani mencoba menurunkan wibawa Pak RT di depan warga. Ia bisa kehilangan legitimasi sebagai ketua RT dan ia tidak mau itu terjadi. Maka peringatan dini harus disampaikan. Seluruh warga akan berdiri di belakang Pak RT. Begitu pikirnya. Kelihatannya, ia sangat yakin sekaligus takut, jika benar si calon maling melaksanakan niatnya.

Satu hal yang ia lupa lakukan. Ia semestinya mengajak orang seperti Pak Sadli bicara, orang yang kelihatannya diam, namun punya kelugasan bersikap dan jujur berfikir. Tanpa diketahui Pak RT, Pak Sadli, habis bubaran rembug warga, bicara dengan beberapa warga yang sepaham. ”Aku khawatir, eh”, begitu ia memulai pembicaraan. ”Khawatir apa?”, yang lain menyela. ”Begini, apa nanti Pak RT ga jadi serba salah? Pertama, kalau benar ada maling malam minggu depan, apa ia ga disalahkan. Wong, sudah tahu bakal ada maling, kok didiamkan. Kedua, kalau ternyata ga ada maling, bagaimana ia menyusun cerita penjelasan. Apa ia bisa menjelaskan ke warga, misalnya, malingnya jadi takut atau insaf setelah ada maklumat mengenai hal itu di forum? Atau ternyata bisikan info dari Pak hansip tidak akurat. Atau kalau misalnya benar ada maling dan malingnya tertangkap, apa warga percaya bahwa ini bukan sandiwara. Saat ini, kan jaman orang bikin agenda untuk kepentingan dirinya?”. Wow, kali ini yang mendengar Pak Sadli jadi manggut-manggut mendengar penuturannya. Salah satu malah ada yang nyeletuk ”Pak Sadli ini udah sekaliber, lho dengan para nara sumber di stasiun televisi di Jakarta. Hebat”. Akhirnya semua sepakat untuk melihat ini sebagai upaya untuk meningkatkan kewaspadaan daripada menghembuskan syak wasangka di antara sesama warga.

Posted by: Slamet Santoso | 24 November 2010

Berita, opini dan akal sehat

Aku lihat
Aku dengar
Aku fikir dan kemudian yakin

Ada luapan berita dan opini mengalir tak terbendung setiap detik
dari koran, radio, televisi, mulut si tukang nasi, resto bebek goreng, obrolan jemaah masjid, kumpulan ronda warga, dan kolega teman kerja

Berita dan opini meluap membanjiri hampir setiap sel otak, mengisi seluruh ruang memori, meresap ke seluruh jaringan neoron, dan kemudian merembes ke jantung hati dan pusat kesadaran; kadang mendidihkan konsentrat kimiawi mental dan emosi

Aku rasakan filter saringan di otak, rasa, dan hati ini mulai terkoyak
Pembeda antara fakta dan dusta mulai kehilangan rasa
Pemilah antara realitas nyata dan maya mulai kehilangan ”sense” untuk menala
Aku kehilangan kemampuan kontrol untuk menekan harapan dan cita-cita tentang keadaan yang jauh dari kenyataan

Aku menyadari bahwa
Fikiran harusnya tetap bisa mengendalikan setiap tindakan sebagai respons atas kondisi lingkungan

Fikiran harusnya tetap bisa memilah antara diskursus yang masih ada di dalam lingkaran pengaruh, sehingga bisa menjadi prioritas aksi dan wacana yang sudah berada di luar jangkauan kekuasaan tindakan, sehingga tak perlu diurusi

Oh,
Aku lihat
Aku dengar dan amati
Lingkungan sudah tersegmentasi ke dalam kotak-kotak pemikiran dan stigma
Ada yang cukup mengurusi nasi
Ada yang sempat berfikir reformasi
Ada yang nekat berwacana revolusi

Aku sedang berusaha menata kembali sistem penata kesadaran dan kendali emosi diri
Yang sanggup meresapi dan membumikan ayat-ayat langit yang telah diwahyukan
Ayat-NYA itu obor
Sabda rasul itu teman berlayar
Fikiran dan nurani sehat itu nahkoda yang akan menyeberangkan perahu kehidupan ku ke tempat yang lebih aman

Ya Tuhan, selamatkan aku dan teman-teman ku. Amien

Wallahu a’lam

Posted by: Slamet Santoso | 24 November 2010

Kesaksian

Mengapa mengucap syahadat (kesaksian) menjadi rukun pertama dari rukun Islam yang lima? Apakah berarti rukun pertama lebih fundamental dari rukun-rukun yang lain? Bagiku itu pertanyaan mendasar. Jika bisa didapat jawaban yang tepat, maka fondasi berfikir kita menjadi verified, benar, dan kokoh.

Abu Jahal, yang arti harfiahnya adalah bapaknya orang bloon, menolak bersyahadat di zaman Nabi. Ia menolak bukan karena tidak mengetahui maknanya, tapi justeru karena faham betul makna dan konsekuensinya. Begitu bersaksi, maka ia harus rela menanggalkan pakaian keangkuhan jabatan, kekuasaan, kekayaan, posisi sosial dan segala atribut duniawi untuk kemudian beralih merengkuh segala atribut keridlaan Tuhannya. Dan itu konsekuensi yang belum mampu ia tanggung, sehingga ia menolak bersaksi.

Jika kita berani bersaksi, namun tidak faham betul makna dan konsekuensi kesaksian itu, bukankah kita lebih bloon dari Abu Jahal?

Jika kita berani bersaksi dan faham betul makna dan konsekuensinya, kemudian kita berani melanggarnya, bukankah kita lebih nekat menentang-NYA?

Ah,
Betapa sering kita berbuat sesuatu tanpa kita menyadarinya
Betapa sering kita tidak berbuat apa-apa padahal kita sudah memahaminya
Betapa sering kita berbuat dengan sadar bahwa kita sudah melanggar kesaksian kita

Tuhan pun bersumpah
Demi waktu
Demi pohon tiin
Demi matahari
Untuk menguatkan firman-NYA

Lalu kita meniru bersumpah atas nama-NYA
Demi Allah
Demi Tuhan
Untuk meyakinkan sumpah kesaksian kita di hadapan orang lain

Sekali seorang muslim mengangkat sumpah atas nama-NYA, kita wajib percaya padanya.

Jika sekarang ini kita jadi ragu atas sumpah-sumpah orang di sekitar kita atas nama Tuhan mereka, salahkah kita?

Bingung? Begitulah biasanya.
Itu masih mendingan daripada sumpah serapah orang-orang yang kulihat sedang berkerumun di depan televisi menyaksikan adegan kesaksian yang makin membingungkan dan menggelikan.

Posted by: Slamet Santoso | 24 November 2010

Kebaikan itu murah dan sederhana

“Aaal hamdulillaaah, panjang umur dan murah rejeki, Pak”, begitu ia biasa berucap dan berdoa sebagai ungkapan rasa terima kasihnya pada aku dan orang lain yang melemparkan uang recehan ke “jaring sumbangan”. Tawanya renyah, senyumnya tulus, ucapannya santun, sanggup mengobati kegundahan manusia yang setiap hari dijejali sampah informasi permasalahan dunia yang mengalir bagai air bah. Benar, suweer, aku berjanji. Kalau kalian gundah, datanglah padanya sambil melempar uang seribuan ke jaring itu, ia akan mengobati kegundahan hati kalian dengan obat senyum dan tawanya. Nyees, begitu rasanya.

Namanya Ahmad Shodik. Ia jamaah masjid dekat rumahku, maksudnya rumah orang lain di mana setiap malam aku tidur. Setiap pagi ba’da shubuh ia sudah berdiri di jalan dengan topi lebar dan jaring sumbangannya. Ia berada di ujung barat masjid yang sedang dipugar. Sedang kakaknya berdiri di ujung jalan yang lain. Setiap jalan pagi dan berangkat ke kantor aku selalu melewati keduanya. Biasanya aku menepuk punggung keduanya bergiliran. Dan lalu mereka akan menghidangkan sarapan “keramahtamahan” alami dengan sapaan ”olah raga, pak? Atau “berangkat kerja, pak?”. Ya, sesekali aku melemparkan uang recehan ke jaring sumbangan di tangan mereka.

Namun, sudah 4 hari ini, aku menyadari ada yang hilang dari pandanganku. Pak Ahmad tidak kelihatan. Ia digantikan oleh temannya. Aku mendapatkan jawabannya pagi ini. Saat melewati kakaknya di ”tempat mangkalnya”, kakaknya mengulurkan tangan untuk bersalaman. Wajahnya serius. Begitu kami bersalaman, ia berujar padaku ”Pak, maafkan saudaraku, Ahmad. Ia berpulang kepada-NYA kemarin, setelah 3 hari di rumah sakit”. Mulutku langsung otomatis mengucap ”Innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun”.

Entah kenapa aku merasakan kehilangan yang sangat. Mungkin aku kehilangan sosok atau role model ”berbuat baik itu murah, mudah dan sederhana”. Ambil peran sekecil apapun peran itu. Jalani dengan sepenuh hati. Penuhi tindakan dengan sikap kemanusiaan yang luhur. Maka itu akan bercahaya.

Ya, aku merasakan cahaya yang memancar dari wajahnya. Aku ingat persis detil raut mukanya, ketika menyapa ”customer” nya. Otot mukanya begitu lentur, tak dipaksakan. Efeknya dahsyat. Keramahan yang berkualitas; jauh lebih berkualitas dari para petugas hotel di negeri ini, singapura, thailand atau malaysia yang pernah aku temui. Sayangnya, aku ga sempat bercakap-cakap lama untuk lebih mengenalnya lebih mendalam. Ia lebih dulu menghadap Ilahi.

Atau, barangkali sebagai role model, kedekatan yang tidak dekat itu rasanya cukup. Aku harus merasa cukup mengintip satu sisi darinya sebagai representasi yang perlu aku tiru. Mungkin sisi yang lain justeru akan melemahkan sisi-sisi yang aku kagumi.

Terima kasih, Tuhan. Engkau sudah hadirkan contoh kasat mata tentang kebaikan. Ampuni segala kesalahan dan dosa Pak Ahmad, Ya Rabbie. Amien.

Posted by: Slamet Santoso | 24 November 2010

Mbak Atun, cicak dan buaya

Nama mbak Atun cukup melekat dalam ingatan tentang masa kecilku. Aku ingat, tiap hari ia jalan keliling kampung dari satu gang ke gang lain; menyapa hampir tiap orang yang ia temui; mengajak senyum dan bercerita dengan lancar apa yang ia alami di hari itu. Ia bahkan kadang memberikan uang receh 5 rupiah-an kepada anak-anak kecil yang memintanya. Kelihatannya ia tak memiliki beban hidup sama sekali; tertawa lepas, tak pernah merengut dan bersedih. Semua orang nampaknya akan sepakat bahwa ia orang yang supel, pandai bergaul, dan dermawan; andai saja orang tidak tahu penyakit yang ia derita.

Sayangnya, orang-orang tahu bahwa ia tak waras, sampai-sampai tak mau mengurus badannya sendiri. Aku nggak tahu kapan ia terakhir kali mandi.

++++++++

Simak paragraf-paragraf di atas. Siapa mbak Atun, jika Anda membaca paragraf pertama tanpa kalimat terakhir? Dan siapa dia, jika Anda membaca seluruh paragraf?

++++++++

Setiap hari, mata kita melahap ribuan paragraf kata. Fikiran kita mencerna ratusan makna. Sebagian makna memperkaya identititas orang-orang di percaturan atau ruang publik kita, namun sebagiannya malah membuatnya makin kabur.

Dani Ahmad sedang mencari istri di televisi; apa maknanya?
Artis lain siap menjadi calon isteri anak bekas menteri; apa maksudnya?
Seorang pejabat menjadi tersangka; apa jadinya?
Seorang bajingan (bekas) gagah tampil di muka; tanda-tanda apa ini?

Ribuan paragraf bisa membuat kita angkat topi; tanda hormat pada seseorang. Ribuan paragraf lainnya membuat kita ingin mencercanya. Sisa paragraf lainnya membuat kita makin bingung atas realita di sekeliling kita. Kok bisa?

Bagaimana mungkin sikap hormat dan sumpah serapah muncul hanya dari konstruksi kata? Bagaimana mungkin kesadaran dan kebingungan itu muncul setelah membaca berita? Apakah itu berarti konstruksi kata dan berita adalah realita kita? Kalau ya, alangkah murahnya.

Jika sikap timbul setelah pemaknaan. Dan makna timbul dari konstruksi kata. Maka konstruksi kata memang bisa membangun realita. Namun, sepasif itukah sikap pembaca?

Ada makna yang as is sesuai dengan logika dan kaidah bahasa.
Ada makna yang timbul karena pamahaman konteks yang ada.
Namun, sebagiannya muncul karena kerangka fikir dan opini yang sudah melekat di kepala kita.

Siapa yang membangun kerangka fikir dan opini kita atas realita?
- Media
- Kita sendiri dengan segala pengalaman dan latar belakang sosial serta pendidikan kita

++++++++

Dan di hari-hari ke depan
Kita masih akan melahap paragraf-paragraf yang semakin membingungkan fikiran kita tentang wajah-wajah ideal yang kita dambakan

Tentang cicak
Tentang buaya
Tentang monster

Ada tersirat harapan kecil munculnya cerita si komo yang akan lebih menghibur batin dan mental kita ke depan

We just hope…

Dan jika paragraf-paragraf di atas makin membuat bingung Anda, rekan sekalian
Mohon kiranya Anda memaafkan aku yang sejatinya lagi bingung sebingung-bingungnya tentang cicak dan buaya itu :-)

Posted by: Slamet Santoso | 27 October 2010

Ramadhan dan kesucian

Suci itu awal
Ketika ruh berkumpul di sebuah padang dan kemudian menyeru Allah sebagai Tuhan
Juga saat jiwa dan badan terlahirkan

Suci itu tujuan
Ketika jiwa terbasuh oleh amaliah ramadhan
Saat harta tersucikan oleh zakat, sedekah, dan segala pemberian
Dan semua kesalahan antar sesama termaafkan

Bulan ramadhan
Bulan suci mensucikan
Bulan pengendalian sisi kebinatangan insan bernama nafsu syahwat dan amarah syaithan

Ramadhan itu mercusuar bagi setiap perjalanan insan
Yang kadang membelok dari rute tujuan karena hempasan gelombang dan angin tak terkendalikan

Ramadhan itu bengkel pemeliharaan
Bagi jiwa yang rusak karena dosa dan kekufuran

Allah Maha Baik dengan segala kebaikan di bulan ramadhan
Allah Maha Pemaaf dengan segala janji memaafkan kepada shaim yang tak mungkin dingkarkan
Allah Maha Pengasih dengan segala curahan kasih – Nya pada semua insan
Allah Maha Dermawan dengan segala pemberian yang tak terbataskan

Sesungguhnya jiwa yang awalnya suci ini bisa terus menjadi suci
Karena ada Dzat Suci yang terus menuntunnya setiap inchi

Namun, apa daya insan dhaif yang senantiasa khilaf
Selalu beranjak mendekati jarak yang menjauhkan fitrah kesucian

Ramadhan akan segera berpulang setelah bertamu sejak selesainya Sya’ban
Moga karenanya, jiwa yang suci berhasil kudapatkan

Posted by: Slamet Santoso | 27 October 2010

THR

Hari-hari ini orang-orang kantoran pada sumringah. Bisa ditebak, mereka baru mendapat THR, 2 minggu sebelum hari raya. Pengaruhnya bukan main. Terjadi kemajuan pada 2 titik lokasi. Di mall-mall terjadi kemajuan jumlah pengunjung yang bukan main. Penuh sesak setiap ruang oleh orang dan barang dagangan. Di masjid terjadi kemajuan barisan (shaf) jamaah sholat tarawih. Di awal ramadhan, baris terakhir adalah baris ke sekian belas. Mendekati akhir ramadhan, baris terakhir mungkin adalah baris ke dua atau ke tiga. Baris terakhir maju ke depan :-)

Namun, ga semua orang ikut sumringah. Ada yang sedikit tersenyum kecut, karena besarnya THR ga sebesar yang diharap. Apa daya, mereka bekerja pada perusahaan yang mungkin lagi kurang sehat atau berpura-pura sakit. Golongan ini, sih masih beruntung juga, karena masih mendapatnya. Hari ini tercatat sudah belasan atau puluhan ribu pekerja dari 81 perusahaan yang mengajukan laporan ke depnaker, karena ga mendapat THR. Bukannya mendapat Tunjangan Hari Raya, mereka malah mendapat Tunjangan Hampa Rasa.

Ya, bagaimanapun setiap pekerja pasti mendamba rasa dari perusahaan. Rasa hormat dan empati. Itu timbal balik dari apa yang golongan manajemen menyebutnya loyalitas. Hormat dan empati itu sebentuk perhatian yang dicurahkan untuk menebak, memperkirakan apa yang dibutuhkan orang lain dan kemudian berusaha sekuat tenaga memberikan yang terbaik dari dirinya untuk mendukung kebutuhan orang lain. Jika peusahaan sudah lenyapkan hormat dan empati, memang benar, karyawan akan mendapat Tunjangan Hampa Rasa.

Hampa rasa tidak hanya dirasakan oleh para pekerja tak berdaya. Sebagian besar rakyat miskin sudah sangat kenal dengan rasa ini. Kalaupun senyum, senyumnya juga hampa. Tawa candanya hampa. Asanya juga asa yang hampa.

Padahal ”Wa laa taiasuu min rauhillaah”. Janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah.

Ada cara yang pas untuk menumbuhkembangkan lagi asa mereka yang tlah berputus asa. Sisihkan THR yang kita terima untuk mereka, sekecil apapun yang kita bisa. Barangkali dengan itu, mereka kembali akan merasakan bahwa Tuhan mereka masih memperhatikan melalui tangan kita.

Posted by: Slamet Santoso | 27 October 2010

Ketika kita musti bertanya pada rumput yang bergoyang

Entah sudah berapa kali lagu Ebiet diperdengarkan di stasiun televisi
Mengiringi gambar lintasan peristiwa memilukan yang menimpa negeri ini
Akhirnya kita musti kembali bertanya pada rumput yang bergoyang
Sebagai refleksi atas ketidaktahuan kita pada semua yang terjadi

Kemalangan hanya sebagai kemalangan
Bencana alam sebagai bencana semata
Menjadi gambaran piciknya pikiran dan rasa kita atas sabda alam yang berseru lantang
Atau mungkin inderawi kita yang sudah mati rasa?

Bukankah Kitab suci beratus kali bertanya senada
”Apakah kau tidak berfikir bagaimana bumi diciptakan?”

Kitab suci itu firman-NYA, namun bukan satu-satunya
Ombak yang menghempas
Lumpur yang menyembur
Api yang membakar
Banjir yang meluluhlantakkan
Gempa yang menggoyang pusat kesadaran
Adalah juga firman yang kasat mata dan rasa

Namun,
Mungkin kita memang perlu belajar kembali mendengar dan mencerna firman-NYA
Bukan cuma melihat dan kemudian berbicara
Atau mengolahnya menjadi tontonan yang mempesona di layar kaca

Oh Tuhan
Karunia kita semua kepintaran mendengar-Mu
Berikan kita kekuatan untuk tunduk di hadapan kehendak-Mu

Posted by: Slamet Santoso | 27 October 2010

Miskin

Tadi Pak Kyai mengupas tema kemiskinan di pengajian pagi hari
Ada banyak hal mencuat soal ini
Jadi sadar betapa miskinnya pengetahuan ku soal kemiskinan

Orang tak berdaya yang tak sudi meminta disebut orang fakir
Orang tak mampu yang meminta disebut miskin
Itu terminologi fiqih
Islam menilai si fakir lebih kuat secara mental dari si miskin
Tapi, meskipun demikian, ingat

Kaadal faqru an yakuuna kufran
Kondisi fakir bisa mendekatkan kepada sikap kafir

Kapan?
Ketika si fakir kemudian berfikir bahwa Allah sama sekali tidak menurunkan nikmat-NYA kepadanya. Padahal nikmat Allah sesungguhnya sudah berlimpah, kalau ia mau menyadarinya.

Orang yang berkemampuan diprioritaskan untuk membantu yang fakir daripada si miskin

Kenapa?
Si miskin sulit untuk berhenti meminta, meskipun kebutuhannya kini sudah tercukupi dari si pemberi. Ia kecanduan meminta, tak kuasa untuk berhenti

Begitu, mungkin salah satu dari alasan kenapa ada fatwa MUI yang melarang kita memberi pada peminta-minta yang ada di mana kita berada
Aku tidak tahu persis soal ini, karena miskinnya pengetahuanku soal rantai kemiskinan ini

Aku ingat dulu di masa kecilku, siapa-siapa yang fakir saat itu dan siapa yang berkemampuan
Aku sadar kini, pas pulang kampung, di antara mereka ada yang berhasil mengentaskan dirinya dari situasi lama

Memang,
Ada orang fakir yang masih berfikir akan lebih berdaya dan berkemampuan di kemudian hari, jika ia berusaha
Ada orang tak mampu yang tetap berfikir ia tercipta sebagai orang miskin
Itulah perbedaan yang lebih esensial antara si miskin dan si tidak miskin.

Jika si fakir berfikir positif tentang nasib
Maka, ia mungkin berani untuk melukis sketsa nasibnya di kemudian hari
Karena ia yakin bahwa ”Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum tersebut mengubah nasibnya sendiri”
Apakah kemudian bisa disimpulkan bahwa yang perlu disingkirkan adalah berfikir menjadi miskin?
Aku juga miskin soal ini

Sistem sosial pun mengenal energi aktivasi
- Aktivasi pengetahuan
- Aktivasi mental
- Aktivasi sarana dan prasarana
- Aktivasi tatanan sosial
- Aktivasi modal

Ia menjadi pemicu awal, sentakan untuk mulai berubah dalam berfikir dan bertindak
Ia menjadi dorongan menuju keadaan yang memudahkan si miskin menetapkan niat dan komitmen untuk menjadi tidak miskin

Ah,
Hubungannya menjadi tidak sederhana
Setiap aktivasi membutuhkan support dari si empunya kewenangan dan tanggung jawab

Tapi, mustinya bisa dimulai
Karena landasan idealnya sangat kuat
1. ”Orang miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara” (kalau tidak salah)
2. Keberpihakan sistem nilai islam pada fakir miskin

Kapan?
Saat ini juga dari setiap kita yang mengaku beragama

Apa?
Segala upaya kreatif untuk membantu si fakir mau berubah untuk tidak miskin, setidaknya dalam pemikiran dan mental, sehingga fakir tidak berubah menjadi kafir

Wallahu a’lam

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.