Posted by: Slamet Santoso | 28 July 2009

Membangun industri kreatif software di Indonesia

Orasi Ilmiah
Wisuda Sarjana STMIK BANDUNG
Bandung, 25 Juli 2009

Assalaamu alaikum wr.wb.

Wisudawan dan wisudawati yang berbahagia,
Pertama kali, saya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilan Anda diwisuda pada hari ini. Anda berhasil melewati seluruh proses belajar dan mengajar di sekolah ini dengan baik. Anda akan segera menyandang gelar akademis yang menandai tingkat kedewasaan Anda secara akademik. Anda diharapkan menjadikan gelar ini sebagai acuan tentang bagaimana berfikir, bersikap, dan bertindak secara lebih dewasa. Terlebih lagi, karena Anda akan menjumpai realitas kehidupan yang penuh dengan tantangan dan persoalan kehidupan yang makin kompleks dari waktu ke waktu. Anda diharapkan menjadi oase yang menyejukkan, pangkal penyelesaian masalah, dan sumber inspirasi serta motivasi bagi masyarakat sekitar. Itulah hakikat dari kecendekiawan yang dituntut dari lulusan perguruan tinggi. Wisuda ini bukan lah akhir. Bahkan, ini menjadi awal. Eksistensi Anda sesungguhnya dimulai hari ini, karena sejak saat ini Anda akan segera memberikan kontribusi kepada masyarakat sekitar. Anda akan menjadi tunas-tunas muda yang siap menjadi pohon rindang yang menghasilkan buah bervitamin dan menaungi masyarakat dari panas sinar matahari permasalahan yang menyengat.

Wisudawan dan wisudawati yang berbahagia,
Di tengah kontroversi apakah Neil Amstrong benar-benar pernah mendarat di bulan atau tidak, baru-baru ini Google melengkapi Google Earth dengan fasilitas yang memungkinkan pengguna internet untuk melihat permukaan bulan, seolah menapaki dari dekat jejak-jejak, yang oleh Google disebutnya sebagai jejak awak Apollo 11, 12, 14, 15, 16, dan 17. Begitulah, Google seolah sedang membangun kesan yang lebih meyakinkan bahwa Neil Amstrong memang pernah pergi dan mendarat berjalan di sana pada tahun 1969. Namun, saya tidak bermaksud mengajak Anda sekalian berpolemik soal Neil Amstrong, tetapi ingin mengantarkan ke suatu topik bagaimana Google, sebagai perusahaan, bisa menghadirkan produk kreatif bernama Google Moon (http://www.google.com/moon/ ). Google Moon merupakan lanjutan kreasi dari Google Earth sebelumnya, yang memungkinkan pengguna internet melihat semua titik lokasi di bumi ini dari jarak yang dapat dijangkau dan diatur oleh satelit citra. Pada sebuah orasi ilmiah hampir satu tahun yang lalu di acara wisuda sebuah perguruan tinggi, saya pernah menceritakan bagaimana Google Earth bisa membantu saya berkomunikasi dengan kolega saya yang berasal dari Korea mengenai tempat tinggal, kantor, dan tempat lahir kami masing-masing. Sungguh menakjubkan.
Kita akan lebih takjub lagi atas apa yang diimpikan oleh tim kreatif mereka bahwa ke depan mereka ingin membuat Peta Semesta, bukan cuma peta bumi.

Wisudawan dan wisudawati yang berbahagia,
Google Moon mewakili produk-produk software lain yang bisa seolah menyihir manusia di jagad bumi ini. Melalui software-software itu orang sadar bagaimana teknologi komputer dapat menghadirkan apa yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan. Saat ini, orang Indonesia sedang disihir oleh Facebook ( www.facebook.com ); software berbasis internet yang memungkinkan seseorang membangun jejaring sosial. Facebook menjadi media yang pas bagi orang Indonesia, yang secara kultural memang menyukai kegiatan mengobrol dan bertegur sapa. Arisan dan pengajian, pelan-pelan, mungkin bisa beralih ke media jejaring ini.

Karena daya sihirnya itu, produk-produk kreatif seperti Google dan Facebook berhasil mendulang pendapatan dan menaikkan nilai perusahaan berlipat ganda dalam waktu yang sangat singkat; menjadikan pemiliknya sebagai orang-orang super kaya. Kini, perusahaan-perusahaan yang menempati peringkat atas di Amerika didominasi oleh perusahaan dengan produk atau jasa di sektor software dan komputer, seperti Microsoft, Oracle, Google, dll. Apalagi jika kita melihat kenyataan bahwa perusahaan-perusahaan dimaksud memiliki rasio nilai perusahaan dibanding nilai aset fisik yang sangat besar, jauh lebih besar dari perusahaan-perusahaan di sektor lain, seperti manufacturing.

Wisudawan dan wisudawati yang berbahagia,
Mari kita bicara tentang Indonesia. Pada peringatan hari Ibu, 22 Desember 2008, Presiden SBY mencanangkan tahun 2009 sebagai tahun Industri Kreatif dengan programnya bertajuk “Indonesia Kreatif 2009”. Pemerintah sadar bahwa ternyata industri kreatif menyumbang secara signifikan perekonomian nasional, yaitu sekitar 6,3 % dari PDB selama kurun 2003 – 2008. Jika menggabungkan sektor industri kreatif ini dengan sektor mikro, kecil, menengah dan rumah tangga, maka gabungan ini malah bisa menyumbang sekitar 8 % dari PDB Indonesia. Melihat potensi di Indonesia yang belum maksimal digarap, maka harapan kontribusi dari sektor industri kreatif ini bisa lebih tinggi lagi. Inilah alasan mengapa pemerintah Indonesia menaruh perhatian sangat besar di sektor industri kreatif.

Presiden, dalam kesempatan itu, secara khusus menyampaikan empat imbauan untuk bersama-sama bangsa Indonesia mengembangkan (1) ekonomi kreatif dengan memadukan ide, seni, dan teknologi, (2) keunggulan produk ekonomi yang berbasiskan seni budaya, dan kerajinan, (3) ekonomi warisan, dan (4) ekonomi kepariwisataan yang berbasis keindahan alam. Sudah saatnya Indonesia bangkit dan mempersiapkan diri untuk menyambut gelombang ekonomi kreatif dengan orientasi pada kreativitas, kekayaan dan warisan budaya, dan lingkungan

Apa itu industri kreatif?
Industri kreatif dapat didefinisikan sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Maka modal utama dari industri ini adalah manusia dengan segala daya kreasi dan inovasinya. Ini berbeda dengan industri lain yang menggantungkan sumber daya alam sebagai modal utamanya.
Terdapat 14 kelompok yang termasuk ke dalam industri kreatif, yaitu: periklanan, arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, desain, fesyen, video, film dan Fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan & percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, televisi & radio, serta riset dan pengembangan.

Mengapa industri kreatif? Mengapa software?Pernahkan Anda membayangkan sebelumnya harga secangkir kopi di atas 40 ribu rupiah? Kita yang terbiasa membayar cukup 1000 – 5000 rupiah untuk secangkir kopi di warung kopi sulit membayangkan hal itu. Namun, Starbuck bisa mengubah kenyataan tersebut. Dengan segala kreasi dan inovasinya, ia bisa membuat kita rela merogoh kocek lebih besar hanya untuk secangkir kopi. Itulah efek multiplikasi dari suntikan kreatifitas terhadap nilai produk.

Software sebagai salah satu dari 14 kelompok industri kreatif sangat potensial dikembangkan di Indonesia seperti layaknya di AS dan Eropa untuk memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi nasional. Mengapa? Apa yang sudah dialami oleh Microsoft, Google, Dell, Oracle, Facebook, Friendster, Yahoo, dll sudah cukup membuktikan itu. Pertanyaannya adalah bisakah itu terjadi di Indonesia dan dalam bentuk kreasi apa?

Anda mungkin sudah hafal dengan lagu “Mbah Surip”. Sekarang, ia sudah mengantongi lebih dari Rp. 5 M beberapa bulan setelah lagu dirilis. Apakah dari penjualan kaset dan CD? Bukan, tapi dari royalti Ringtone telepon seluler. Ya, kehadiran telpon seluler dengan segala fiturnya menginspirasi lahirnya produk-produk berbasis content dan jasa ekonomi ritel yang berbasis massa.

Saat ini kita melihat berbagai perkembangan menarik, yang sedang terjadi
1. Konvergensi teknologi komputer dan telekomunikasi
2. Konvergensi teknologi komunikasi dan inovasi content
3. Pergeseran model bisnis dari menjual produk ke menjual jasa

Konvergensi atau menyatunya teknologi komputer dan telekomunikasi menjadikan jaringan informasi makin membesar, menghubungkan simpul-simpul jaringan berupa mesin-mesin pemroses yang makin bervariasi, seperti PC, notebook, pocket PC, hand phone, televisi, piranti periferal, piranti kontrol ke mesin produksi, dan lain-lain. Ini mendatangkan efek manfaat yang sangat besar berupa makin kuatnya ide otomatisasi proses bisnis yang makin meluas. Interkoneksi yang makin luas dan lancar akan meningkatkan efektifitas proses, dan mudah-mudahan efisiensi pemanfaatan sumber daya, terutama waktu proses. Bagi bisnis, ini membuka peluang bagi Anda untuk mencari ide-ide mengenai otomatisasi perkantoran atau proses bisnis yang melibatkan piranti-piranti komunikasi atau mesin pemroses yang ada di pasaran. Syaratnya adalah pemahaman mengenai kompleksitas proses bisnis dan pemahaman mengenai fitur-fitur produk telekomunikasi dan jejaring komputer.

Menyatunya teknologi informasi dan inovasi content akan mempercepat tersebar dan terbangunnya pengetahuan dan kecerdasan masyarakat. Content bisa berupa suara, gambar, dan teks. Topik content bisa sangat bervariasi bergantung kebutuhan komunitas.
Inovasi content adalah kreasi untuk menyuguhkan topik pengetahuan atau hiburan dalam format yang menarik bagi komunitas, dan mudah disebarkan melalui teknologi informasi yang berkembang. Jika saja fenomena “Mbah Surip” bisa dicangkokkan pada ide membuat ringtone dari lagu-lagu daerah yang mungkin jumlahnya ribuan, maka kita bisa menghasilkan ribuan produk kreatif yang akan laku di pasaran, termasuk bukan tidak mungkin pasar luar negeri.

Wisudawan dan Wisudawati yang Berbahagia,
Kreatifitas didefinisikan sebagai kemampuan untuk berimajinasi dan menghasilkan ide-ide baru dengan mengkombinasikan, mengubah atau menerapkan ide-ide yang sudah ada dengan cara yang belum dipikirkan sebelumnya. Jika ide-ide kreatif kemudian diproses melalui beberapa tahapan sehingga menghasilkan produk atau jasa atau model bisnis, maka lahirlah inovasi.

Kreatifitas membutuhkan 4 syarat, yaitu 1) motivasi personal untuk melahirkan sesuatu, 2) lingkungan yang mendukung, 3) keahlian di bidangnya dan keterbukaan menerima ide-ide baru, dan 4) proses atau metodologi yang tepat.

Lahirnya software sebagai produk kreatif juga membutuhkan keempat syarat kreatifitas tersebut.

Motivasi personal
Jika saja sebagian besar lulusan perguruan tinggi di bidang teknologi informasi berkeinginan besar ikut terlibat dalam pembuatan software, maka dampak pada industri software akan signifikan. Bekerja bukanlah satu-satunya pilihan untuk berkarya. Menjadi enterpreuneur bisa menjadi pilihan untuk menghasilkan produk kreatif. Anda tahu bahwa pendiri Microsoft, Oracle, dan Dell adalah pemuda-pemuda yang tidak memilih jalur akademis sebagai penentu kesuksesan mereka. Tetapi, mereka memiliki motivasi dan mimpi yang sangat kuat untuk mencipta sesuatu yang akhirnya mengharumkan nama mereka.

Lingkungan yang mendukung
Produk kreatif umumnya lahir dari lingkungan yang kondusif. AS memproduksi banyak sekali film bermutu karena memiliki Holywood. Demikian juga Hongkong dan India. Paris menjadi tempat lahirnya banyak desain fesyen acuan kiblat dunia. Bandung, dalam skala nasional, menjadi tempat tumbuh suburnya industri musik dan pertunjukan, serta wisata kuliner.

Industri software membutuhkan ekosistem yang menunjang. Dibutuhkan paling tidak 6 komponen pembangun ekosistem, yaitu 1) sekolah dan perguruan tinggi yang menghasilkan sumber daya yang memiliki kompetensi pengembangan piranti lunak, 2) sumber ide kreatif, seperti seni, budaya, dan business knowledge/ expertise, 3) marketing channel yang bisa menyalurkan produk ke pasar, 4) dukungan dan kebijakan/ peraturan pemerintah, 5) lembaga pembiayaan, dan 6) Sentra-sentra enterpreuneurship.

Tentu, menciptakan 6 komponen ekosistem secara serentak bukanlah pekerjaan mudah. Namun, kita bisa berangkat untuk memulai membangun lingkungan yang kondusif dari satu atau dua komponen ekosistem yang telah ada.

Keahlian di bidang software dan keterbukaan terhadap ide-ide baru
Ide kreatif tetap akan menjadi sekedar ide, jika pelaku tidak segera mewujudkannya dengan ketrampilan yang dimilikinya. Sesuai pakem dalam proses rekayasa software, dibutuhkan berbagai kompetensi dan ketrampilan terkait, seperti ketrampilan menganalisis, merancang, dan memprogram. Karena produk kreatif sering terkait pada cita rasa, maka sentuhan seni juga dibutuhkan untuk membangun user interface yang menarik minat pengguna.

Sebagai proses kreasi, menemukan ide baru dalam menentukan produk atau mengenai proses, metoda, dan tahapan rekayasa menjadi keniscayaan. Pelaku industri software haruslah senantiasa terbuka, membaca situasi, apa yang terjadi di lingkungan luar, mau berubah dari keajegan untuk menggunakan apa-apa yang baru dan lebih baik dari yang biasa ia gunakan. Ia harus memiliki agility, atau kelincahan dalam menerapkan hal-hal baru yang bermanfaat.

Proses atau metodologi yang tepat
Pengembangan software adalah proses rekayasa (engineering). Sudah ada metoda atau best practices yang sudah terbukti efektif dipakai oleh vendor-vendor pembuat software multinasional. Ada pendekatan classic life cycle, prototyping, spiral, dll. Namun, sebagai proses kreasi, tahapan rekayasa saja tidaklah cukup. Masih ada tahapan tersembunyi yang menandai proses kreasi. Bagaimana sebuah ide itu muncul dari kepala masih mengandung sisi misteri.

Ide teori Newton lahir dari jatuhnya buah apel. Blink, disebutnya. Ide sekejap itu kemudian diteruskan dengan serangkaian proses berfikir panjang untuk membangun formulasi yang lebih sempurna. Nokia, Motorola, Samsung tentunya adalah perusahaan-perusahaan yang dari waktu ke waktu menggenjot tim kreatifnya untuk mengeksplorasi ide-ide baru yang lebih menarik. Namun, kemudian setelah ide kreatif muncul, tim engineering atau production menindaklanjutinya dengan serangkaian tahapan proses rekayasa. Demikianlah, hal yang sama terjadi di Microsoft, Google, dan Facebook.

Kombinasi dan kerjasama yang padu antara tim kreatif dengan tim rekayasa menjadi faktor yang menentukan bagi lahirnya produk-produk kreatif bermutu dan menarik minat pengguna.

Wisudawan dan Wisudawati yang berbahagia,
Kita memiliki potensi untuk mengikuti mereka yang telah sukses di industri software. Modal awal kita adalah motivasi yang kuat dan ketrampilan yang memadai. Saat kita menunjukkan 2 modal awal kita, insyaallah modal yang lain akan mengikutinya.

Saya ingin mengakhiri orasi ini dengan mengucapkan selamat berkarya kepada Anda sekalian. Mari kita syukuri anugerah ini dengan cara memberikan kontribusi maksimal bagi lingkungan. Tidak ada lain, kecuali melalui karya yang bisa kita ciptakan.

Sekian.
Wassalaamu alaikum wr.wb.

Posted by: Slamet Santoso | 7 July 2009

Reframing

Jika Anda lagi suntuk, coba tanyakan pada teman Anda apakah apa yang membuat Anda suntuk juga membuat dia suntuk. Simpan ingatan itu. Dan coba fikirkan di waktu dan keadaan yang lain, apakah yang membuat Anda suntuk juga bakal membuat Anda suntuk di waktu yang berbeda? Ada kemungkinan bahwa suatu hal yang sama membuat pengaruh yang berbeda di waktu, keadaan, dan pada orang yang berbeda. Kenapa demikian? Karena yang menyebabkan Anda suntuk bukan hanya sesuatu dari luar yang menimpa Anda, namun juga kerangka berfikir (frame) yang Anda pakai untuk melihat sesuatu itu.

Mari kita melihatnya lebih jelas.
Hari ini Anda diminta menemui orang yang sulit diajak negosiasi. Bos Anda menargetkan Anda berhasil memenangkan sebagian poin-poin perundingan itu. Pertama Anda berfikir bos Anda tidak adil. Kenapa pekerjaan berat diserahkan ke diri Anda. Kenapa bukan dia saja yang mewakili perundingan? Kan, itu bagian dari tanggung jawabnya? Karena Anda berfikir demikian, Anda marah, sewot, mengumpat, dan membicarakan ketidak-adilannya ke siapapun.

Titik. Anda marah, karena berfikir bos Anda tidak adil dan memberatkan Anda.

Sekarang, coba berfikir dengan cara berbeda.
Bos Anda sedang menguji kemampuan Anda dalam bernegosiasi, karena ia ingin mempromosikan Anda ke posisi dengan peran tanggung jawab yang lebih menantang.

Lihat. Anda akan memiliki perasaan yang lain. Bisa lebih tenang, atau malah senang.

Cobaan yang menimpa kita akan menjadi bencana, jika kita melihatnya dengan kerangka bahwa Tuhan sedang membenci dan memusuhi kita. Namun jika kita bisa memilih kerangka yang lain; bahwa Tuhan sedang ”menyapa” kita dengan cara-NYA, tentu cobaan itu akan menjadi media memperoleh kebajikan di hari kemudian.

Memilih kerangka berfikir yang tepat untuk memaknai setiap apa yang menimpa kita, sehingga terkuak gambar yang positif, dalam Neuro Lingustic Programming disebut sebagai Reframing. Reframing sering dipakai untuk kegiatan terapi penyembuhan bagi penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh perasaan-perasaan negatif tentang suatu hal.

Ya, kembali kita diingatkan
Anda yang menentukan akan memperoleh apa, paling tidak melalui gambar fikiran Anda tentang sesuatu.

Tuhan berkata ”Anaa inda dlonni ’abdie”; AKU akan berikan sesuatu sesuai persangkaan hamba-KU tentang AKU.

Wallaahu a’lam

Posted by: Slamet Santoso | 7 July 2009

Metamorfosa

Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu

Itu nukilan syair lagu anak band Indonesia yang sangat inpiratif, kaya makna, dan dinyanyikan dengan gembira. Awalnya, samara-samar aku mendengarnya. Namun, setelah disimak, wow bukan main kedalaman arti filosofis nya.

Ya, metamorfosa; proses perubahan dari satu bentuk ke bentuk lain pada makhluk dengan nyawa dan ruh yang sama. Entah apa yang menjadi motivasi dari sang ulat sehingga ia kemudian berproses mengubah wujud dirinya menjadi kupu-kupu. Mungkin karena sang ulat ingin terbang ke sana kemari. Entahlah, hanya Tuhan yang tahu. Itu misteri alam.

Namun, kita semua tahu ketika Sang Rasul berkhalwat, menyendiri, dan merenung di sebuah gua memikirkan hingar bingar dan kebobrokan moral masyarakat sekitar Mekah, makin kuatlah kesadaran dirinya akan pentingnya perbaikan akhlak, lalu melalui proses yang panjang beliau menjelma menjadi Sang Penyampai Kebenaran. Beliau menjalani metamorfosa dengan penuh kesadaran.

Proses itu, dalam takaran yang berbeda, juga dialami oleh grup band Slank yang berhasil lari dari bayang-bayang dan kendali obat terlarang. Kita bisa melihat suguhan contoh-contoh metamorfosa pada orang-orang di sekitar kita yang menginspirasi kita semua untuk menjalani metamorfosa, berubah menjadi wujud yang lebih baik dan bermanfaat bagi lingkungan.

Di dalam istilah agama, proses metamorfosa seperti proses berhijrah dari kebiasaan, tingkah laku, perkataan, dan pemikiran lama kepada yang baru; biasanya lebih baik.

Metamorfosa pada seseorang diawali dari proses menyadari pentingnya perubahan mendasar. Kesadaran adalah produk dari proses berfikir, bukan proses berkhayal. Khayalan hanya membuahkan angan-angan yang gampang terterpa angin, tetapi berfikir dan merenung melahirkan hasrat, cita-cita, dan semangat yang tak mudah diubah oleh keadaan; badai sekalipun.

Bercita-cita, berkeinginan, atau to be adalah awal dari to become . To become merupakan proses panjang yang menguras energi fisik dan mental yang kadang melelahkan. Tapi proses ini menentukan keberhasilan metamorfosa. To be yang kuat dapat menyokong proses to become yang berkesinambungan. Aku ingat beberapa kali mencoba menjadi pria yang langsing, namun tak berhasil, dengan berbagai alasan. Tapi, aku yakin persis bahwa to become nya kurang bereksinambungan karena to be nya yang tak terlalu kuat; kalah oleh godaan yang menggiurkan, yaitu makan malam dan duduk berlama-lama di depan komputer.

Metamorfosa semestinya berakhir pada bentuk baru yang stabil, seperti kenyataan bahwa kupu-kupu tak pernah kembali menjadi ulat. Dalam kehidupan, kestabilan wujud baru ini yang kadang sulit. Kita sering tergoda untuk kembali berubah wujud ke wujud lama; pemikiran, tingkah laku, dan kebiasaan yang lama. Dari penelitian-penelitian mengenai karakteristik otak, kebiasaan terbentuk karena terbentuknya rangkaian atau jalur syaraf sinapsis. Kebiasaan bisa berubah, jika kita bisa memerintah otak kita membangun rangkaian atau jalur syaraf sinapsis yang baru. Rata-rata kebiasaan terbentuk setelah paling pendek 20 hari kita mengulang-ulang aktivitas yang sama. Namun, jalur syaraf sinapsis bagi kebiasaan yang lama tak akan terhapus. Itulah kenapa, kita bisa jadi kembali kepada kebiasaan lama yang sudah kita tinggalkan.

Bersikap istiqomah, konsisten pada to be, dan sabar mungkin kunci bagi kestabilan metamorfosa. Makanya kita sering dianjurkan untuk berdoa ”Ihdinasshiraathal mustaqiem”, Tunjukkan kami jalan untuk selalu bisa istiqomah. Amien.

Aku jadi berfikir apakah facebook bisa jadi media untuk membangun kesadaran akan perubahan positif, membangkitkan cita-cita to be, mendukung to become, dan menguatkan konsistensi (sikap istiqomah) seperti proses metamorfosa yang ulat atau kupu-kupu alami.

Suatu tantangan bagi diskursus mengenai hubungan antara teknologi dan kehidupan manusia di masa depan. Ada yang tertarik untuk riset ini?

Wallahu a’lam

Posted by: Slamet Santoso | 7 July 2009

Refleksi

Guru fisika sma ku memang pinter. Dengan cara yang sederhana, dulu ia bisa menjelaskan konsep-konsep fisika ke para siswa dengan gamblang. Kami, salah satunya aku, jadi menyukai pelajaran itu.

Pembahasan optik menjadi salah satu yang menarik. Kami belajar tentang jenis dan karakteristik benda optik; bahwa cermin adalah benda optik; cermin ada yang cembung, datar, dan cekung; sifat pencerminan masing-masing nya juga berbeda. Jika suatu benda ada di depan cermin, maka karena sifat refleksi optik, akan ada bayangan benda tersebut di ruang definitif di belakang cermin. Ya, jadi ada istilah benda nyata, benda bayangan, ruang definitif cermin, cermin itu sendiri, dan sifat refleksi cermin.

Lalu, biasa. Fikiran berkembang melintasi batasan formal keilmuan.

Ketika aku bicara dan orang lain mendengar, aku kemudian melihat sikapnya. Jika aku berbicara lain, aku lihat perubahan sikapnya. Akhirnya aku bisa tahu bagaimana aku bicara dari bagaimana ia bersikap. Maka, sikapnya seolah adalah bayangan dari bicaraku. Ada suatu cermin definitif, ruang definitif, dan sifat refleksinya tanpa aku tahu bagaimana otak bekerja membangun kerangka berfikirnya, sehingga aku tahu di sana sifat refleksi cermin bekerja dalam ranah tema komunikasi dua orang.

Jika ada sekelompok orang bertingkah laku meniru perilaku kelompok orang lain, atau seseorang meniru sikap orang lain, itu juga semacam refleksi. Perilaku preman ada di mana-mana, menjadi fenomena sosial. Kadang itu juga merefleksikan perilaku para pemegang kewenangan yang suka sewenang-wenang. Maka, kalau tiba-tiba anak kita berani melotot dan marah, sambil berkata kasar kepada temannya, barang kali itu refleksi dari salah satu sikap kita yang berhasil ia rekam.

Eh, ya. Sikap, tindakan, dan omongan adalah refleksi dari fikiran. Temenku kemarin mengatakan ”we are what we think”. Artinya, kita dengan segala macam atribut yang melekat pada kita adalah hasil cerminan dari apa yang kita fikirkan. Salah seorang filsuf barat mengatakan ”Kita berfikir, maka kita ada”.

Para pemasar, dengan sengaja, membangun sistem refleksi untuk mencerminkan produk nyata para produsen menjadi bayangan produk di ruang pemikiran konsumen. Tentu, bayangannya lebih indah dan menarik dari benda nyatanya. Namanya juga pemasar. Mereka pengin menarik selera konsumen untuk membeli produknya.

Tapi, yang menarik adalah fakta bahwa apa yang kita lihat, dengar, cium, rasa, dan kita tangkap melalui indera sesungguhnya adalah cerminan dari benda nyatanya. Apakah tidak ada distorsi dari sifat refleksi semacam itu? Apakah bayangan akan sama dengan nyatanya. Lalu apakah sebenarnya eksistensi itu. Apa bedanya dengan esensi. Apakah aku? Eksistensi atau esensi. Apakah aku adalah apa yang aku fikirkan tentang aku, ataukah aku ya, aku itu.

He..he.., siang gini, belum makan kok mikir mumet. Refleksi dari apa, ya?

Posted by: Slamet Santoso | 7 July 2009

Momentum

Hari ulang tahun sering dianggap sebagai momentum yang tepat bagi seseorang untuk melakukan refleksi diri atas pencapaian, kontribusi, dan prestasi yang ia tempuh sampai dengan hari itu.

Begitulah, kita sering mendengar orang memakai istilah momentum untuk kalimat-kalimat semisal. Tepatkah pemakain istilah tersebut? Aku tak bermaksud membahas tepat tidaknya istilah momentum dari konteks formal perbahasaan atau kebahasaan Indonesia.

Lagi-lagi, aku tertarik pada salah satu topik pelajaran fisika. Ga tahu, sekarang lagi angot (kumat) melamunkan kembali prinsip-prinsip fisika yang belakangan menarik perhatian. Momentum, salah satunya.

Setiap benda bermasa m, dan bergerak dengan kecepatan v, memiliki momentum p, yang besarnya mv. Artinya, semakin besar kecepatan atau masa benda, semakin besar momentumnya. Untuk mengubah kecepatan sebuah benda yang bergerak, artinya juga perubahan momentum, diperlukan gaya yang bekerja selama selang waktu perubahan kecepatan tersebut. Perkalian gaya, F, dengan selang waktu, dT, disebut impuls, yang besarnya sama dengan perubahan momentum yang terjadi, mv2 – mv1, di mana v1, v2 adalah kecepatan awal dan setelah berubah.

Jadi untuk mengubah momentum benda, kita memiliki variabel gaya, F, dan selang waktu, dT. Jika gayanya kecil, maka selang waktunya panjang. Sebaliknya jika gayanya besar, selang waktunya pendek. Gaya yang menyebabkan perubahan momentum dalam selang waktu yang sangat pendek disebut gaya impulsif.

Prinsip impulsif ini terkait dengan banyak fenomena.

Di dunia beladiri, seperti karate, kita dilatih untuk bisa memukul sangat singkat, cepat, tapi menghasilkan efek pukulan yang kuat, mematikan (?). Dunia militer mengenal istilah serangan kilat; dilakukan dengan sangat mendadak, cepat, tepat, dan melumpuhkan musuh. Para pemasar juga mengenal pemakaian fenomena impuls ini dalam strategi promosinya. Bung Karno, dalam bukunya “Sarinah”, menengarai impuls ini dengan menyebut 2 macam istilah, yaitu revolusioner dan reaksioner. Kemerdekaan RI disebutnya sebagai peristiwa revolusioner yang mengubah momentum pergerakan berdasarkan visi yang baru, sesuai semangat pembukaan UUD 1945.

Jika kita menusuk dengan pisau, maka ketajaman pisau sangat menentukan hasil. Tajam itu impulsif.

Ketajaman juga dibutuhkan di mana-mana, tidak hanya saat mengupas mangga atau apel. Ketajaman berfikir dibutuhkan oleh seorang CEO, ketika hendak membawa perusahaan keluar dari situasi krisis atau berlari lebih kencang, meninggalkan kompetitornya. Ketajaman berkata dibutuhkan lawyer atau tim PR untuk menyuguhkan argumentasi dan pesan proposisi yang kuat tak terbantahkan. Ketajaman rasa dibutuhkan seniman untuk menghasilkan karya seni yang menggugah sukma.

Secara intuitif, kita menyederhanakan perkataan, seperti kalimat pembuka tulisan ini.
Kita membutuhkan suatu momen, waktu, saat, di mana perubahan momentum bisa terjadi dalam waktu yang singkat. Istilah manajemennya efisien dan efektif.

Maka, orang Jakarta ingin mengatakan ”Mudah-mudahan hari lahir kota jakarta bisa menjadi momen yang pas, di mana lahir sebuah gaya yang menyebabkan momentum pergerakan masyarakat jakarta berubah secara cepat menuju arah yang lebih menyejahterakan dan memberikan rasa keadilan, sesuai apa yang tertera dalam Piagam Jakarta.

Met ultah, Jakarta. Boleh, dong aku yang berhari lahir sama denganmu merayakan bersama dengan sederhana saja, melalui facebook.

Posted by: Slamet Santoso | 7 July 2009

Rajin, pandai, dan pintar

Aku dulu punya teman yang kocak waktu sekolah di program pascasarjana. Sebut saja namanya Amran (bukan nama sebenarnya). Kocaknya kocak cerdas, tajam, kadang menyentil telak. Aku dan teman-teman sekelas kadang dibuat terpojok, tapi senang atas lelucon yang ia lontarkan. Contohnya pagi itu, pada jam 8.50, saat aku dan teman-teman duduk berderet di luar ruang kelas membaca buku teks untuk mempersiapkan ujian Sistem Basis Data. Jadwalnya jam 09.00. Kami semua berdiam diri, khusyu, tekun melototin setiap baris tulisan. Senyap,…sampai kemudian suara Amran memecah kesunyian ”Memang,…orang pintar kalah sama orang-orang rajin”. Kulihat, sambil berkata ia menoleh memandangi kami semua yang sedang keliahatan rajin membaca.
Kami serempak kemudian menimpali ”huuuuh….”. Amran senang kegirangan.

Begitulah cerita yang dituturkan temanku, Amat, kepadaku mengenai Amran, temannya di kampus.

Amat termasuk pandai. Ia masuk ranking terus sejak SD, SMP, dan SMA. Bahkan ketika di kampus, indeks prestasinya selalu di atas 3. Ia hampir cum laude. Sayang, ia tak cukup pintar waktu itu untuk memfokuskan perhatian dan strateginya untuk bisa lulus cum laude. Ya, ia tak cukup pintar untuk memilih pembimbing dan topik tugas akhir, sehingga penelitiannya jadi molor. Untung, akhirnya ia bisa wisuda bareng sama aku yang masuk kuliah 2 tahun lebih lambat. Untuk menghindari pembaca mencapku sebagai orang pandai, aku ingin ingin ngomong dulu bahwa meskipun pintar untuk lulus tepat waktu, namun aku tidak cukup pandai. Wong, indeks prestasiku Cuma dua koma alhamdulillah .

Amat juga punya banyak kepandaian lain. Ia pandai menggambar, terutama gambar karakter, kartun, atau yang abstrak. Ia juga pandai main gitar. Namun, sekali lagi sayang, ia tak memanfaatkan kepandaiannya tersebut untuk pencapaian yang maksimal, di bidang menggambar atau musik. Kalau saja ia tak masuk jurusan fisika – informatika, dan mengeksplorasi kepandaian melukisnya, aku rasa ia bisa melejit.

Rajin pangkal pandai.
Kepandaian berbasis kekayaan pengetahuan dan intensitas latihan. Makin rajin membaca (arti membaca yang seluas-luasnya) dan berlatih (arti latihan yang selua-luasnya), orang akan makin pandai. Kepandaian adalah hasil proses mengumpulkan khasanah pemahaman dan kebiasaan.

”Wa’allama aadamal asmaa”. Dan Tuhan ajarkan adam tentang asma.

Asma, ingat ilmu dulu di pesantren, adalah bentuk jamak dari ism. Ism bisa berarti nama atau term, obyek, class; realitas atau definitif abstract. Makin banyak ism yang kita ketahui, makin pandai kita.

Kapan orang pandai tidak pintar?
Ketika ia tidak mampu mendefinisikan sebuah tujuan.
Ketika ia tak sanggup memanfaatkan kepandaiannya dan membangun strategi yang pas untuk mencapai tujuan.

Kepintaran lahir dari semangat dan konsistensi untuk terus berfikir, menghubung-hubungkan, mencari yang terbaik, analisis what-if, dan membangun basis penalaran dari waktu ke waktu.

Orang berbisnis harus pintar.
Orang berpolitik harus pintar.
Orang berdakwah harus pintar.

Kepandaian sering tidak cukup untuk pencapaian tujuan.

Aku banyak melihat contoh di sekitar orang-orang pintar berprestasi puncak, yang sanggup mendayagunakan kepandaian SDM yang ia miliki di perusahaan. Sebagian mereka mengaku tidak cukup pandai di sekolah. Sementara, aku melihat lebih banyak lagi orang pandai yang tidak cukup pintar menjalani kehidupan ini.

Maka ketika mendengar dan membaca di sebuah surat kabar ada kejadian sekelompok pengendara moge menganiaya dan mengeroyok pengemudi sebuah mobil, aku langsung bertanya kenapa orang-orang pandai itu menjadi bloon, tolol, bedegug; sama sekali jauh dari pintar dalam melihat kepentingan diri dan orang lain.

Orang bodohpun tahu, mereka bertingkah melebihi Tuhan.

Jika kita pintar untuk memanfaatkan kepandaian, maka kita akan lebih pandai.
Apalagi jika kita sanggup untuk menggunakan kepandaian kita mengungkap rahasia keberadaan makhluk di bumi sebagai pertanda yang esensial bahwa Tuhan exist di universe, termasuk di dalam diri, maka kita akan melangkah jenjang menjadi ”cendekia”.

Allah menuturkannya dengan sangat manis
”Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan pada pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda esesnsi kebesaran-NYA bagi ulul albab (sementara diterjemahkan cendekiawan).

Posted by: Slamet Santoso | 7 July 2009

Medan Rasa

Bisa dikata, benci dan cinta bercampur menjadi satu, ketika aku mendengar Teori Medan. Ini teori paling menarik sekaligus sulit untuk ukuran otakku yang agak cekak. Pemodelan yang digunakan untuk mengupas berbagai fenomena, terutama bangunan persamaan Maxwell, bisa menginspirasi penerapannya dalam memahami berbagai persoalan kehidupan.

James H. Sinamo, motivator etos kerja, http://institutmahardika.com/artikel/artiteor.php , merupakan salah seorang yang sangat tertarik menunjukkan prinsip simetri hukum Teori Maxwell dan Etos Kerja. Aku salut sama beliau dengan explorasi yang sangat luas mengenai dunia sekitar.

Sebentar…dari mana aku mulai.
Oh, ya. Pikirkan sebuah ruang. Di dalam ruang ada obyek/ entitas, realitas atau abstraks. Setiap obyek itu memiliki besaran fisika, contohnya massa. Nah, kita sudah mulai melamunkan suatu medan. Ada interaksi antara satu obyek dengan obyek lain, contohnya tarik-menarik, tolak menolak, atau apapun gaya yang menyebabkan suatu obyek mempengaruhi keadaan obyek lain.

Ya, itu awal yang sederhana bicara tentang medan. Membicarakan medan adalah ngobrolin soal titik-titik yang saling memberi pengaruh di sebuah ruang definitif. Kelanjutannya, sulit. Aku tak sanggup bicara lebih dalam, jika yang dibicarakannya setara dengan topik formalnya om Maxwell.

Nah, Rasul bersabda (susunan pasnya lupa) ”Jika dua orang berlainan jenis berduaan di tempat sepi, yang ketiganya adalah setan”.

Apakah setan yang dimaksud adalah entitas nyata ketiga?
Atau setan adalah entitas abstrak bernama interaksi antar entitas?

Ok. Bayangkan sekali lagi dengan imajinasimu

Ada suatu ruang definitif (sepi, remang-remang, dingin, …), ada pemuda cakep dan pemudi cantik (terutama di keremangan), masing-masing adalah entitas/ obyek yang memiliki kekuatan energi rasa (cinta, rindu, dongkol, kesepian, semangat, dll). Ada jarak antara dua entitas tersebut.

Pemuda melihat pemudi. Rasa cinta pemuda keluar memancar, sampai “menyentuh” pemudi. Rasa cinta pemudi timbul ikut memancar balik, sampai dirasakan pemuda. Sebagai gelombang, dua rasa cinta dengan frekuensi sama akan beresonansi. Dua gelombang juga bersuperposisi menghasilkan kekuatan yang membesar.

Sebagai partikel, dua rasa bisa bertumbukan karena saling tarik menarik dan melebur bertubrukan, hasilnya adalah partikel lain bernama hasrat, nafsu. Orang kimia menamakan reaksi kimia. Partikel nafsu mengalir dari pemuda ke pemudi dan dari pemudi ke pemuda. Bukan lagi partikel cinta.

Dalam suatu medan (ruang dan titik), kekuatan interaksi antara dua entitas berbanding terbalik dengan kuadrat jarak. Makin dekat makin kuat medannya. Maka, jika sudah tidak ada jarak, sungguh dahsyat kekuatan medannya; menjadi tak terhingga.

Maka,
“Walaa taqrobuzzinaa”, jangan engkau dekati zina.

Ini adalah masalah jarak.
Setiap insan memiliki energi bercinta; cinta murni maupun cinta berbalut nafsu. Jika kita pandai memahami dan mengendalikan “setan” interaksi, maka kekuatan energi rasa bukanlah sebab, atau kausa.

Pemahaman fenomena yang menentukan.

Interaksi rasa di dalam medan tidak selalu bermakna “setan”. Ada juga interaksi malaikat.

Tatapan mesra suami pada istri. Belaian kasih ayah/ ibu pada anak. Rasa mengayomi ulama pada ummat. Rasa hormat kita pada tetangga. Sapaan bersahabat kita pada teman facebook.

Itu semua contoh energi atau partikel yang pada jarak yang tepat sanggup mengalir, memancar, menumbuk, dan menggetarkan orang-orang di sekitar kita dalam suatu ruang definitif bernama ruang sosial.

Facebook merupakan ruang sempit yang bisa jadi hampir tak berjarak, tempat di mana berbagai macam interaksi medan rasa terjadi. Pahami superposisi rasa yang bisa terjadi.

Wallahu a’lam.

Posted by: Slamet Santoso | 7 July 2009

FB for Fat Burning

“Udah, segini aja, jangan lebih” ucap bekas pacarku tadi sebelum kukecup kening dan xx nya di pagi subuh, sesaat sebelum kutinggalkan bandung menuju jakarta.

Berawal dari Resonansi
Sebulan lalu, teman ku Mas Betha Sidik, sering sekali menulis status facebook nya dengan nada kira-kira “lari pagi 1 jam”, “lari sore…”, “berat turun 1 kg”. Tulisan itu awalnya memprovokasi aku. Ih…sempet-sempetnya di Jakarta ini lari pagi dan sore. Untuk apa turun berat badan? Mending gemuk, lebih berwibawa. Gimana dan di mana kerjanya, ya, Mas Betha Sidik itu? Provokasi itu mengganggu kenyamananku. Aku terusik. Dari perasaan yang tak terdefinisi, aku berubah rasa. Oh, aku iri. Aku ingin melakukannya, menirunya, menyainginya, mengalahkannya. Masa, aku tidak bisa lebih rajin darinya? Panas…, tapi adem. Hari gini, siapa yang tertarik saingan rajin-rajinan lari. Kalau saingan berebut kursi, itu baru panas. Saingan lari, ya adem-adem aja.

Mampukah?
Perlukah?
Sekarangkah?
Ini dia, si biang penghambat.
Fikiran, kerangka berfikir. Aku keburu men judge bahwa gemuk itu ok-ok aja. Benarkah? Sebenarnya, sih bukan karena ok-ok aja, tapi karena beberapa kali mencoba tak berhasil. Jadi aku berfikir, kalau nyoba lagi juga pasti gagal.
Salma dan Salman punya pikiran lain ”coba, ayah lebih langsing, bisa nyaingi Salman main bola”. Aku dengerin mereka dengan kerangka berfikirnya.

Aku melakukan reframing
Mengubah sudut pandang tentang sesuatu; tentang gemuk, kolesterol, kelincahan, kenyamanan berpakaian, kenyamanan sujud, duduk tasyahhud, dan lain-lain. Kayaknya lega, ga sesak nafas, jika aku lebih kurus.

Aku sampai pada tahap mendefinisikan ”to be”, aku ingin turun > 5 kg an.
Kalau bisa, di ulang tahun Jakarta, aku bisa menikmati jalan-jalan di PRJ dengan lebih ringan. Ya, aku sampai di tahap awal dari proses metamorfosa; to be; keinginan untuk mencapai sesuatu.

To become adalah proses lanjutannya. Tinggal pergi ke Tendean Plaza, daftar kembali fitness. Beli kapsul herbal penahan lapar. Beli buah-buahan. Cari-cari kaos yang pas. Bersihin sepatu olah raga. Dan, paginya, ba’da shubuh aku mulai jalanin rutinitas. Jalan pagi 1 jam sambil dengerin lagu. Bukan main malasnya, awal itu. Ada gaya gesek, gaya inersia yang menahanku untuk tetap diam. Tapi, begitu ku lawan, gaya itu hampir menjadi nol, berganti menjadi dorongan nikmat, untuk selalu mengulangi dan mengulangi. Persis kayak awal aku mulai tinggalin kopi dan gula.

Ya, kafein bisa kugantikan dengan oksigen pagi hari, yang sedikit-sedikit juga sudah bercampur dengan asap metro mini 75 jurusan Blok M – Pasar Minggu.

Makan malam adalah soal lain lagi. Gimana kutinggalkan, atau kugantikan? Ya, kuganti dulu dengan apel. Ternyata bisa. Ok, ga ada penolakan berarti. Suara bisikan halus untuk menyantap nasi goreng, bebek atau lele goreng masih kalah sama suara Salman di kejauhan ”tenang, ayah pasti bisa”.

He..he, bener bisa.
20 hari aku bisa istiqomah, konsisten menjalani ritual jalan pagi, jalan malam di treadmill, dan makan malem dengan apel.

Pas, sebelum hari ultah jakarta, aku bisa turunkan berat badanku 7 kg, melalui 20 hari proses.

Dan, pagi tadi istriku khawatir aku terus melanjutkan ritualku, dan badan ku terus menyusut. “Udah, segini aja, jangan lebih”

Ya, aku tersenyum simpul dan berujar ”Tidak ada lagi yang bisa aku tonjolkan, nanti”.

Mau tahu apa yang aku lamunkan pada saat jalan pagi?
Aku ingin sempatin waktu setengah jam untuk menulis di facebook. Seringkali, dari lamunan selama jalan pagi, aku bisa menulis apa aja, termasuk yang ngawur-ngawur.

Dan….
Tulisan ini semacam janji tak tertulis, ”suatu saat, aku pantas menulis ini”.

Ini yang dalam buku The Secret semacam mengajak alam untuk mendukung kita. Mau coba?

Posted by: Slamet Santoso | 7 July 2009

Disipasi, absorbsi, dan konduksi

Mari kita bayangkan suatu medan. Sebuah ruang dan kumpulan partikel di dalamnya. Partikel-partikel itu bergerak dengan kecepatan, arah dan besar, yang relative sama. Sekarang, bayangkan ada partikel lain yang bergerak dengan kecepatan berbeda. Suatu saat, partikel itu akan menabrak partikel lain; tabrakan yang bisa beruntun, mungkin juga tubrukan ke semua partikel di ruang itu. Akibat tubrukan adalah timbulnya panas, yang merupakan bentuk energi lain, hasil perubahan dari energi kinetik (gerak). Hukum kekekalan energi berlaku di sini. Secara makro, bisa dikatakan terjadi disipasi panas, fenomena keluarnya panas karena tubrukan atau gesekan, di ruang tersebut.

Fenomena yang serupa terjadi, jika kita menggesek-gesekkan telapak tangan, mengamplas kayu dan besi, mengebor, membenturkan batu, mengerem, menyalakan korek api, menstarter motor dan mobil, atau ”menggosok-gosok” ego teman supaya mau mentraktir Anda (?) .

Ya, hati-hati, gesekan menimbulkan panas, termasuk gesekan kepentingan di dalam suatu organisasi.

Organisasi adalah kumpulan orang-orang dengan sejumlah kepentingan yang melekat pada individu atau kelompok individu. Dalam keadalan stabil atau stasioner (tunak), setiap invidu atau kelompok bergerak dengan kecepatan yang mirip, hampir sama. Jika karena suatu inisiatif, seseorang bergerak dengan kecepatan (besar dan arah) yang relatif berbeda, maka hampir pasti akan terjadi tumbukan, atau gesekan. Vektor kecepatan mewakili sifat vektor yang lain, seperti vektor kepentingan (interest). Gesekan atau friksi biasanya menimbulkan panas. Gesekan dalam takaran yang cukup dapat mengganggu kestabilan. Ini, dalam teori kekacauan (chaos), ditandai dengan naiknya besaran entropi.

Sistem yang reliable memiliki kemampuan untuk menjaga sedemikian sehingga perubahan entropi yang terjadi menyebabkan kondisi stabil berubah ke kondisi stabil yang baru; bukan ke kondisi tak stabil selamanya. Ada 2 cara untuk melakukan ini.

Pertama, melakukan absorbsi, meredam, menyerap panas yang terjadi dengan bahan atau media pendingin di permukaan panas. Pemimpin organisasi harus memiliki kemampuan untuk melokalisir disipasi panas secara efektif, jika arah perubahan yang menyebabkan gesekan tidak sesuai dengan visi kemajuan organisasi.

Kedua, melakukan konduksi, menyebarkan panas ke semua permukaan media yang lebih luas lagi. Biarkan tumbukan terjadi di mana-mana. Tumbukan-tumbukan yang terjadi menyebabkan orientasi arah gerak organisasi menuju arah yang lebih sesuai dan dengan besar kecapatan kemajuan yang lebih kencang.

Hakikat hidup adalah bergerak. Tumbukan dan tabrakan seringkali tak dapat dihindari. Kemampuan untuk mendisipasi, mengabsorbsi, dan mengkonduksi panas, sebagai akibat dari gerak langkah kita adalah sebuah keniscayaan.

Yang penting adalah memikirkan orientasi gerak langkah kita ke depan dan mengukur seberapa besar energi yang kita miliki sekarang dan yang bisa kita kumpulkan ke depan untuk kemudian melaju menubruk segala yang tak sesuai aturan Tuhan dan mendorong, serta mengorientasikannya ke arah yang diridloi Tuhan.

Wallaahu a’lam.

Posted by: Slamet Santoso | 7 July 2009

Rasa ini sungguh tak wajar

Debat capres putaran pertama sudah lewat. Kompas menyebutnya sebagai debat yang tidak memperdebatkan. Kering tak ada greget. Tidak ada adu argumentasi, adu wacana, adu konsep menyelesaikan persoalan bangsa ini. Anies Baswedan, yang rektor Paramadina, sebagai moderator menuturkan persoalan ini menggunakan dua term (peristilahan), yaitu ekspresi dan impresi.

Ia mengatakan bahwa alih-alih beradu pendapat, ketiga capres malah beradu santun. Dalam keadaan seperti itu, bukan ekspresi yang muncul. Namun keinginan untuk membuat impresi yang sangat kentara.

Impresi adalah potret diri. Di jaman sekarang, graphics designer yang pintar sanggup membuat foto wajah yang awalnya penuh jerawat dan bopeng menjadi wajah yang mulus dan kinclong. Photosop menjadi semacam cermin yang bisa diperintahkan oleh pemilik wajah untuk membuat bayangan yang lebih indah dari bentuk aslinya.

Di jaman sekarang, cermin yang demikian bukan main larisnya. Apalagi jika tubuh kita kurang ramping. Cerminnya bisa kita suruh agar menampilkan tubuh ramping ideal. Cermin seperti itu mahal harganya. Lebih mahal dari biaya yang kita keluarkan untuk berolah raga, membeli slimming tea, membayar fitness centre mebership fee, dan keperluan untuk hidup sehat.

Cermin cap “sang raja” juga tidak murah. Kalau rakyat bercermin di situ, ia menjadi seolah-olah kenyang, padahal lapar. Ia menjadi seolah-olah gemuk, padat berisi, padahal kerempeng tak berdaging. Cermin itu bisa menampilkan wajah yang suntuk dan bersedih menjadi tersenyum. Oh, maaf, seolah tersenyum. Produsen cermin itupun menjamur. Para pemasarnya bersemangat mendatangi posko-posko dukungan terhadap calon raja.

Namun, salahkah membeli cermin; eh, maaf, membangun impresi?
Tentu tidak.
Impresi penting, perlu dijaga agar wajah kita tergambar tidak lebih buruk dari aslinya. Tidak lebih buruk dari aslinya. Bukan untuk berbeda dari aslinya. Bukan semacam topeng yang menyembunyikan. Bukan piranti kepura-puraan. Cermin itu perlu dibersihkan, sebersih-bersihnya. Tak ada noda. Ia akan berkata jujur.; menampilkan tidak lebih, tidak kurang; pas.

Cermin itu untuk merefleksikan diri, secara jujur. Dari bercermin, kita bisa lebih baik untuk berekspresi. Ya, impresi bukan untuk menggantikan ekspresi.

Aku inget saat-saat pernah larut dalam suasana ketika berekspresi di depan seribu lima ratusan lebih audiens; menjadi penghotbah salah satu vendor teknologi. Aku tidak pedulikan aku seperti apa di depan mereka. Aku hanya ingin ngomong, kalau perlu sambil teriak berjingkrak, layaknya Steve Ballmer. Lepas. Bebas. Ekspresif. Semua ide tersampaikan. Semua hasrat terlampiaskan. Semangat tertularkan. Semua berakhir dengan tepuk tangan sorak sorai yang membahana.

Ya, itulah ekspresi. Impresi akan lahir dengan sendirinya.

Maka, Sang Rasul tidak pernah menyeru kita untuk berpura-pura atau mempertontonkan ”seperti apa akhlak kita?”.

Perbaiki akhlakmu. Itu ajakannya.
Akhlak adalah karakter, apa yang anda miliki, apa yang anda lakukan, apa yang anda rasakan. Bukan apa yang anda ingin orang lain berfikir anda miliki, anda lakukan, dan anda rasakan; is not what you want other people think you are.

Maka,
Wahai capres…
Aku lebih butuh ekspresimu
Sampaikan fikiranmu lewat mulutmu
Aku masih berfikir Anda semua tetap santun meskipun Anda berteriak mempertahankan ide fikiranmu.

Syukur,
Pembawa acara debat capres menyadari bahwa rasa ini sungguh tak wajar.

Ia berkenan untuk memperbaiki formatnya.
Kita tunggu…

Older Posts »

Categories