Sahabatku di facebook, Didik T. Agus, menulis sebuah kalimat bijak dalam bahasa Arab di statusnya beberapa hari yang lalu.
“Kun kitaaban bilaa ‘unwaan, walaa takun ‘unwaanan bilaa kitaab”.
“Jadilah sebuah buku (meskipun) tanpa judul dan jangan (sekali-kali) menjadi judul yang tanpa buku”.
Sayangnya, aku ga bisa menemukan kalimat dalam bahasa Indonesia yang seindah kalimat aslinya dalam bahasa Arab.
Ketika aku minta dia menafsirkannya, ia malah memintaku menafsirkannya lebih jauh. Ya, sahabatku yang satu ini memang masih seperti yang dulu waktu sama-sama ngekos di daerah Cisitu, Bandung; pintar, sederhana dan rendah hati.
Tiba-tiba aku berfikir soal eksistensi. Apa aku ini? Apakah aku ini hadir dalam fikiran atau mewujud lewat jangkauan inderawi. Apakah aku ini hati, perasaan, ucapan dan perbuatanku yang terekam dalam fikiran ku dan orang sekitarku. Seperti Des Cartes yang berkata “I think, therefore I am”. Atau aku adalah aku yang tiap pagi berjalan menyusuri jalan Bangka menuju kantor dengan segala atribut fisiknya; baju, sepatu, kacamata dan dompet dengan segala kartu di dalamnya.
Stephen Covey, di buku nya “Seven habbits for the highly effective people” memberikan ilustrasi yang menarik tentang visi eksistensi pribadi dengan mengajak kita berimajinasi mengenai saat kita ada di peti mati. Bayangkan di saat itu ada berapa puluh, ratus atau ribu orang yang mengenal kita dan menangisi kepergian kita. Mereka menangis karena signifikansi kontribusi kita pada lingkungan. Atau berapa puluh, ratus atau ribu orang yang bergembira karena kematian kita. Mereka tertawa karena tingkah onar kita yang merugikan masyarakat sekitar akan segera lenyap bersama lenyapnya kita dari muka bumi. Atau tidak ada satupun manusia di bumi ini yang peduli; tidak tertawa, tidak juga menangisi kepergian kita.
Jika kematian adalah “judul” lenyapnya eksistensi kita di dunia, maka rekaman fikiran orang sekitar tentang jejak laku kita adalah “buku” catatan esensi dari eksistensi kita. Sungguh ilustrasi yang mengena.
Lihatlah sekitar.
Ada orang yang sibuk dengan “judul”. Ia kerahkan segala daya dan upaya untuk mencipta judul, sampai kehilangan kesempatan untuk menulis “buku” nya. Toh, ada saja masyarakat yang termanipulasi menikmati judul-judul itu.
Ada orang yang sibuk menulis “buku”. Ia sangat menikmati bahagianya berproses dan melihat bahagianya orang sekitar menikmati hasil proses, sampai tak terpikir apakah proses menyenangkan itu perlu sebuah “judul”. Ia memilih tidak dan menyembunyikan bukunya dari media. Namun, ingatan orang yang mendapatkan manfaat sudah cukup merekamnya. Dan Tuhan tidaklah buta dan tuli terhadapnya.
Ada orang yang bisa menulis buku dan mendapatkan judul yang pas, sehingga buku berjudul itu bisa dibaca dan diamalkan oleh banyak orang. Sungguh itu keberkahan duniawi dan ukhrawi.
Di tahun baru ini, ada baiknya kita berniat dan merencanakan menulis buku yang bermanfaat; buku yang kita tulis selama setahun, kemudian kita baca di akhir tahun. Semoga menjadi buku yang membahagiakan diri dan orang lain.
Selamat tahun baru hijriyah. Selamat menulis buku.