Orasi Ilmiah
Wisuda Sarjana STMIK BANDUNG
Bandung, 25 Juli 2009
Assalaamu alaikum wr.wb.
Wisudawan dan wisudawati yang berbahagia,
Pertama kali, saya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilan Anda diwisuda pada hari ini. Anda berhasil melewati seluruh proses belajar dan mengajar di sekolah ini dengan baik. Anda akan segera menyandang gelar akademis yang menandai tingkat kedewasaan Anda secara akademik. Anda diharapkan menjadikan gelar ini sebagai acuan tentang bagaimana berfikir, bersikap, dan bertindak secara lebih dewasa. Terlebih lagi, karena Anda akan menjumpai realitas kehidupan yang penuh dengan tantangan dan persoalan kehidupan yang makin kompleks dari waktu ke waktu. Anda diharapkan menjadi oase yang menyejukkan, pangkal penyelesaian masalah, dan sumber inspirasi serta motivasi bagi masyarakat sekitar. Itulah hakikat dari kecendekiawan yang dituntut dari lulusan perguruan tinggi. Wisuda ini bukan lah akhir. Bahkan, ini menjadi awal. Eksistensi Anda sesungguhnya dimulai hari ini, karena sejak saat ini Anda akan segera memberikan kontribusi kepada masyarakat sekitar. Anda akan menjadi tunas-tunas muda yang siap menjadi pohon rindang yang menghasilkan buah bervitamin dan menaungi masyarakat dari panas sinar matahari permasalahan yang menyengat.
Wisudawan dan wisudawati yang berbahagia,
Di tengah kontroversi apakah Neil Amstrong benar-benar pernah mendarat di bulan atau tidak, baru-baru ini Google melengkapi Google Earth dengan fasilitas yang memungkinkan pengguna internet untuk melihat permukaan bulan, seolah menapaki dari dekat jejak-jejak, yang oleh Google disebutnya sebagai jejak awak Apollo 11, 12, 14, 15, 16, dan 17. Begitulah, Google seolah sedang membangun kesan yang lebih meyakinkan bahwa Neil Amstrong memang pernah pergi dan mendarat berjalan di sana pada tahun 1969. Namun, saya tidak bermaksud mengajak Anda sekalian berpolemik soal Neil Amstrong, tetapi ingin mengantarkan ke suatu topik bagaimana Google, sebagai perusahaan, bisa menghadirkan produk kreatif bernama Google Moon (http://www.google.com/moon/ ). Google Moon merupakan lanjutan kreasi dari Google Earth sebelumnya, yang memungkinkan pengguna internet melihat semua titik lokasi di bumi ini dari jarak yang dapat dijangkau dan diatur oleh satelit citra. Pada sebuah orasi ilmiah hampir satu tahun yang lalu di acara wisuda sebuah perguruan tinggi, saya pernah menceritakan bagaimana Google Earth bisa membantu saya berkomunikasi dengan kolega saya yang berasal dari Korea mengenai tempat tinggal, kantor, dan tempat lahir kami masing-masing. Sungguh menakjubkan.
Kita akan lebih takjub lagi atas apa yang diimpikan oleh tim kreatif mereka bahwa ke depan mereka ingin membuat Peta Semesta, bukan cuma peta bumi.
Wisudawan dan wisudawati yang berbahagia,
Google Moon mewakili produk-produk software lain yang bisa seolah menyihir manusia di jagad bumi ini. Melalui software-software itu orang sadar bagaimana teknologi komputer dapat menghadirkan apa yang sebelumnya tidak pernah terfikirkan. Saat ini, orang Indonesia sedang disihir oleh Facebook ( www.facebook.com ); software berbasis internet yang memungkinkan seseorang membangun jejaring sosial. Facebook menjadi media yang pas bagi orang Indonesia, yang secara kultural memang menyukai kegiatan mengobrol dan bertegur sapa. Arisan dan pengajian, pelan-pelan, mungkin bisa beralih ke media jejaring ini.
Karena daya sihirnya itu, produk-produk kreatif seperti Google dan Facebook berhasil mendulang pendapatan dan menaikkan nilai perusahaan berlipat ganda dalam waktu yang sangat singkat; menjadikan pemiliknya sebagai orang-orang super kaya. Kini, perusahaan-perusahaan yang menempati peringkat atas di Amerika didominasi oleh perusahaan dengan produk atau jasa di sektor software dan komputer, seperti Microsoft, Oracle, Google, dll. Apalagi jika kita melihat kenyataan bahwa perusahaan-perusahaan dimaksud memiliki rasio nilai perusahaan dibanding nilai aset fisik yang sangat besar, jauh lebih besar dari perusahaan-perusahaan di sektor lain, seperti manufacturing.
Wisudawan dan wisudawati yang berbahagia,
Mari kita bicara tentang Indonesia. Pada peringatan hari Ibu, 22 Desember 2008, Presiden SBY mencanangkan tahun 2009 sebagai tahun Industri Kreatif dengan programnya bertajuk “Indonesia Kreatif 2009”. Pemerintah sadar bahwa ternyata industri kreatif menyumbang secara signifikan perekonomian nasional, yaitu sekitar 6,3 % dari PDB selama kurun 2003 – 2008. Jika menggabungkan sektor industri kreatif ini dengan sektor mikro, kecil, menengah dan rumah tangga, maka gabungan ini malah bisa menyumbang sekitar 8 % dari PDB Indonesia. Melihat potensi di Indonesia yang belum maksimal digarap, maka harapan kontribusi dari sektor industri kreatif ini bisa lebih tinggi lagi. Inilah alasan mengapa pemerintah Indonesia menaruh perhatian sangat besar di sektor industri kreatif.
Presiden, dalam kesempatan itu, secara khusus menyampaikan empat imbauan untuk bersama-sama bangsa Indonesia mengembangkan (1) ekonomi kreatif dengan memadukan ide, seni, dan teknologi, (2) keunggulan produk ekonomi yang berbasiskan seni budaya, dan kerajinan, (3) ekonomi warisan, dan (4) ekonomi kepariwisataan yang berbasis keindahan alam. Sudah saatnya Indonesia bangkit dan mempersiapkan diri untuk menyambut gelombang ekonomi kreatif dengan orientasi pada kreativitas, kekayaan dan warisan budaya, dan lingkungan
Apa itu industri kreatif?
Industri kreatif dapat didefinisikan sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan kreatifitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut. Maka modal utama dari industri ini adalah manusia dengan segala daya kreasi dan inovasinya. Ini berbeda dengan industri lain yang menggantungkan sumber daya alam sebagai modal utamanya.
Terdapat 14 kelompok yang termasuk ke dalam industri kreatif, yaitu: periklanan, arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, desain, fesyen, video, film dan Fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan & percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, televisi & radio, serta riset dan pengembangan.
Mengapa industri kreatif? Mengapa software?Pernahkan Anda membayangkan sebelumnya harga secangkir kopi di atas 40 ribu rupiah? Kita yang terbiasa membayar cukup 1000 – 5000 rupiah untuk secangkir kopi di warung kopi sulit membayangkan hal itu. Namun, Starbuck bisa mengubah kenyataan tersebut. Dengan segala kreasi dan inovasinya, ia bisa membuat kita rela merogoh kocek lebih besar hanya untuk secangkir kopi. Itulah efek multiplikasi dari suntikan kreatifitas terhadap nilai produk.
Software sebagai salah satu dari 14 kelompok industri kreatif sangat potensial dikembangkan di Indonesia seperti layaknya di AS dan Eropa untuk memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi nasional. Mengapa? Apa yang sudah dialami oleh Microsoft, Google, Dell, Oracle, Facebook, Friendster, Yahoo, dll sudah cukup membuktikan itu. Pertanyaannya adalah bisakah itu terjadi di Indonesia dan dalam bentuk kreasi apa?
Anda mungkin sudah hafal dengan lagu “Mbah Surip”. Sekarang, ia sudah mengantongi lebih dari Rp. 5 M beberapa bulan setelah lagu dirilis. Apakah dari penjualan kaset dan CD? Bukan, tapi dari royalti Ringtone telepon seluler. Ya, kehadiran telpon seluler dengan segala fiturnya menginspirasi lahirnya produk-produk berbasis content dan jasa ekonomi ritel yang berbasis massa.
Saat ini kita melihat berbagai perkembangan menarik, yang sedang terjadi
1. Konvergensi teknologi komputer dan telekomunikasi
2. Konvergensi teknologi komunikasi dan inovasi content
3. Pergeseran model bisnis dari menjual produk ke menjual jasa
Konvergensi atau menyatunya teknologi komputer dan telekomunikasi menjadikan jaringan informasi makin membesar, menghubungkan simpul-simpul jaringan berupa mesin-mesin pemroses yang makin bervariasi, seperti PC, notebook, pocket PC, hand phone, televisi, piranti periferal, piranti kontrol ke mesin produksi, dan lain-lain. Ini mendatangkan efek manfaat yang sangat besar berupa makin kuatnya ide otomatisasi proses bisnis yang makin meluas. Interkoneksi yang makin luas dan lancar akan meningkatkan efektifitas proses, dan mudah-mudahan efisiensi pemanfaatan sumber daya, terutama waktu proses. Bagi bisnis, ini membuka peluang bagi Anda untuk mencari ide-ide mengenai otomatisasi perkantoran atau proses bisnis yang melibatkan piranti-piranti komunikasi atau mesin pemroses yang ada di pasaran. Syaratnya adalah pemahaman mengenai kompleksitas proses bisnis dan pemahaman mengenai fitur-fitur produk telekomunikasi dan jejaring komputer.
Menyatunya teknologi informasi dan inovasi content akan mempercepat tersebar dan terbangunnya pengetahuan dan kecerdasan masyarakat. Content bisa berupa suara, gambar, dan teks. Topik content bisa sangat bervariasi bergantung kebutuhan komunitas.
Inovasi content adalah kreasi untuk menyuguhkan topik pengetahuan atau hiburan dalam format yang menarik bagi komunitas, dan mudah disebarkan melalui teknologi informasi yang berkembang. Jika saja fenomena “Mbah Surip” bisa dicangkokkan pada ide membuat ringtone dari lagu-lagu daerah yang mungkin jumlahnya ribuan, maka kita bisa menghasilkan ribuan produk kreatif yang akan laku di pasaran, termasuk bukan tidak mungkin pasar luar negeri.
Wisudawan dan Wisudawati yang Berbahagia,
Kreatifitas didefinisikan sebagai kemampuan untuk berimajinasi dan menghasilkan ide-ide baru dengan mengkombinasikan, mengubah atau menerapkan ide-ide yang sudah ada dengan cara yang belum dipikirkan sebelumnya. Jika ide-ide kreatif kemudian diproses melalui beberapa tahapan sehingga menghasilkan produk atau jasa atau model bisnis, maka lahirlah inovasi.
Kreatifitas membutuhkan 4 syarat, yaitu 1) motivasi personal untuk melahirkan sesuatu, 2) lingkungan yang mendukung, 3) keahlian di bidangnya dan keterbukaan menerima ide-ide baru, dan 4) proses atau metodologi yang tepat.
Lahirnya software sebagai produk kreatif juga membutuhkan keempat syarat kreatifitas tersebut.
Motivasi personal
Jika saja sebagian besar lulusan perguruan tinggi di bidang teknologi informasi berkeinginan besar ikut terlibat dalam pembuatan software, maka dampak pada industri software akan signifikan. Bekerja bukanlah satu-satunya pilihan untuk berkarya. Menjadi enterpreuneur bisa menjadi pilihan untuk menghasilkan produk kreatif. Anda tahu bahwa pendiri Microsoft, Oracle, dan Dell adalah pemuda-pemuda yang tidak memilih jalur akademis sebagai penentu kesuksesan mereka. Tetapi, mereka memiliki motivasi dan mimpi yang sangat kuat untuk mencipta sesuatu yang akhirnya mengharumkan nama mereka.
Lingkungan yang mendukung
Produk kreatif umumnya lahir dari lingkungan yang kondusif. AS memproduksi banyak sekali film bermutu karena memiliki Holywood. Demikian juga Hongkong dan India. Paris menjadi tempat lahirnya banyak desain fesyen acuan kiblat dunia. Bandung, dalam skala nasional, menjadi tempat tumbuh suburnya industri musik dan pertunjukan, serta wisata kuliner.
Industri software membutuhkan ekosistem yang menunjang. Dibutuhkan paling tidak 6 komponen pembangun ekosistem, yaitu 1) sekolah dan perguruan tinggi yang menghasilkan sumber daya yang memiliki kompetensi pengembangan piranti lunak, 2) sumber ide kreatif, seperti seni, budaya, dan business knowledge/ expertise, 3) marketing channel yang bisa menyalurkan produk ke pasar, 4) dukungan dan kebijakan/ peraturan pemerintah, 5) lembaga pembiayaan, dan 6) Sentra-sentra enterpreuneurship.
Tentu, menciptakan 6 komponen ekosistem secara serentak bukanlah pekerjaan mudah. Namun, kita bisa berangkat untuk memulai membangun lingkungan yang kondusif dari satu atau dua komponen ekosistem yang telah ada.
Keahlian di bidang software dan keterbukaan terhadap ide-ide baru
Ide kreatif tetap akan menjadi sekedar ide, jika pelaku tidak segera mewujudkannya dengan ketrampilan yang dimilikinya. Sesuai pakem dalam proses rekayasa software, dibutuhkan berbagai kompetensi dan ketrampilan terkait, seperti ketrampilan menganalisis, merancang, dan memprogram. Karena produk kreatif sering terkait pada cita rasa, maka sentuhan seni juga dibutuhkan untuk membangun user interface yang menarik minat pengguna.
Sebagai proses kreasi, menemukan ide baru dalam menentukan produk atau mengenai proses, metoda, dan tahapan rekayasa menjadi keniscayaan. Pelaku industri software haruslah senantiasa terbuka, membaca situasi, apa yang terjadi di lingkungan luar, mau berubah dari keajegan untuk menggunakan apa-apa yang baru dan lebih baik dari yang biasa ia gunakan. Ia harus memiliki agility, atau kelincahan dalam menerapkan hal-hal baru yang bermanfaat.
Proses atau metodologi yang tepat
Pengembangan software adalah proses rekayasa (engineering). Sudah ada metoda atau best practices yang sudah terbukti efektif dipakai oleh vendor-vendor pembuat software multinasional. Ada pendekatan classic life cycle, prototyping, spiral, dll. Namun, sebagai proses kreasi, tahapan rekayasa saja tidaklah cukup. Masih ada tahapan tersembunyi yang menandai proses kreasi. Bagaimana sebuah ide itu muncul dari kepala masih mengandung sisi misteri.
Ide teori Newton lahir dari jatuhnya buah apel. Blink, disebutnya. Ide sekejap itu kemudian diteruskan dengan serangkaian proses berfikir panjang untuk membangun formulasi yang lebih sempurna. Nokia, Motorola, Samsung tentunya adalah perusahaan-perusahaan yang dari waktu ke waktu menggenjot tim kreatifnya untuk mengeksplorasi ide-ide baru yang lebih menarik. Namun, kemudian setelah ide kreatif muncul, tim engineering atau production menindaklanjutinya dengan serangkaian tahapan proses rekayasa. Demikianlah, hal yang sama terjadi di Microsoft, Google, dan Facebook.
Kombinasi dan kerjasama yang padu antara tim kreatif dengan tim rekayasa menjadi faktor yang menentukan bagi lahirnya produk-produk kreatif bermutu dan menarik minat pengguna.
Wisudawan dan Wisudawati yang berbahagia,
Kita memiliki potensi untuk mengikuti mereka yang telah sukses di industri software. Modal awal kita adalah motivasi yang kuat dan ketrampilan yang memadai. Saat kita menunjukkan 2 modal awal kita, insyaallah modal yang lain akan mengikutinya.
Saya ingin mengakhiri orasi ini dengan mengucapkan selamat berkarya kepada Anda sekalian. Mari kita syukuri anugerah ini dengan cara memberikan kontribusi maksimal bagi lingkungan. Tidak ada lain, kecuali melalui karya yang bisa kita ciptakan.
Sekian.
Wassalaamu alaikum wr.wb.