Posted by: Slamet Santoso | 27 October 2010

Ketika kita musti bertanya pada rumput yang bergoyang

Entah sudah berapa kali lagu Ebiet diperdengarkan di stasiun televisi
Mengiringi gambar lintasan peristiwa memilukan yang menimpa negeri ini
Akhirnya kita musti kembali bertanya pada rumput yang bergoyang
Sebagai refleksi atas ketidaktahuan kita pada semua yang terjadi

Kemalangan hanya sebagai kemalangan
Bencana alam sebagai bencana semata
Menjadi gambaran piciknya pikiran dan rasa kita atas sabda alam yang berseru lantang
Atau mungkin inderawi kita yang sudah mati rasa?

Bukankah Kitab suci beratus kali bertanya senada
”Apakah kau tidak berfikir bagaimana bumi diciptakan?”

Kitab suci itu firman-NYA, namun bukan satu-satunya
Ombak yang menghempas
Lumpur yang menyembur
Api yang membakar
Banjir yang meluluhlantakkan
Gempa yang menggoyang pusat kesadaran
Adalah juga firman yang kasat mata dan rasa

Namun,
Mungkin kita memang perlu belajar kembali mendengar dan mencerna firman-NYA
Bukan cuma melihat dan kemudian berbicara
Atau mengolahnya menjadi tontonan yang mempesona di layar kaca

Oh Tuhan
Karunia kita semua kepintaran mendengar-Mu
Berikan kita kekuatan untuk tunduk di hadapan kehendak-Mu

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.