Posted by: Slamet Santoso | 27 October 2010

THR

Hari-hari ini orang-orang kantoran pada sumringah. Bisa ditebak, mereka baru mendapat THR, 2 minggu sebelum hari raya. Pengaruhnya bukan main. Terjadi kemajuan pada 2 titik lokasi. Di mall-mall terjadi kemajuan jumlah pengunjung yang bukan main. Penuh sesak setiap ruang oleh orang dan barang dagangan. Di masjid terjadi kemajuan barisan (shaf) jamaah sholat tarawih. Di awal ramadhan, baris terakhir adalah baris ke sekian belas. Mendekati akhir ramadhan, baris terakhir mungkin adalah baris ke dua atau ke tiga. Baris terakhir maju ke depan :-)

Namun, ga semua orang ikut sumringah. Ada yang sedikit tersenyum kecut, karena besarnya THR ga sebesar yang diharap. Apa daya, mereka bekerja pada perusahaan yang mungkin lagi kurang sehat atau berpura-pura sakit. Golongan ini, sih masih beruntung juga, karena masih mendapatnya. Hari ini tercatat sudah belasan atau puluhan ribu pekerja dari 81 perusahaan yang mengajukan laporan ke depnaker, karena ga mendapat THR. Bukannya mendapat Tunjangan Hari Raya, mereka malah mendapat Tunjangan Hampa Rasa.

Ya, bagaimanapun setiap pekerja pasti mendamba rasa dari perusahaan. Rasa hormat dan empati. Itu timbal balik dari apa yang golongan manajemen menyebutnya loyalitas. Hormat dan empati itu sebentuk perhatian yang dicurahkan untuk menebak, memperkirakan apa yang dibutuhkan orang lain dan kemudian berusaha sekuat tenaga memberikan yang terbaik dari dirinya untuk mendukung kebutuhan orang lain. Jika peusahaan sudah lenyapkan hormat dan empati, memang benar, karyawan akan mendapat Tunjangan Hampa Rasa.

Hampa rasa tidak hanya dirasakan oleh para pekerja tak berdaya. Sebagian besar rakyat miskin sudah sangat kenal dengan rasa ini. Kalaupun senyum, senyumnya juga hampa. Tawa candanya hampa. Asanya juga asa yang hampa.

Padahal ”Wa laa taiasuu min rauhillaah”. Janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah.

Ada cara yang pas untuk menumbuhkembangkan lagi asa mereka yang tlah berputus asa. Sisihkan THR yang kita terima untuk mereka, sekecil apapun yang kita bisa. Barangkali dengan itu, mereka kembali akan merasakan bahwa Tuhan mereka masih memperhatikan melalui tangan kita.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.