Malam itu Pak RT tiba-tiba bicara lain dari biasanya. Sambil nyicipin tempe goreng buatan Ibu Sriyem, Pak RT mulai menampakkan wajah seriusnya. Sikapnya diatur sangat berwibawa. Bicaranya pelan, tegas, bersuara bariton, runtut, dan kadang-kadang menggunakan istilah-istilah para pejabat di ibukota yang sering ia lihat di televisi. “Bapak-bapak, saudara-saudara warga RT 01 RW 11 yang saya hormati”, begitu ia mulai bicara. Pak Salim, hansip yang terkenal sangat loyal menjaga lingkungan langsung bersikap ta’zim, mencorongkan wajahnya sambil menghentikan kunyahan kue lapis yang potongannya masih di tangan kirinya. Tangan kananya juga tak bergerak masih menggenggam gelas separoh isi. Ruangan langsung hening. Pak RT melanjutkan “Besok malam minggu, saya mensinyalir ada maling yang akan merongrong kewibawaan saya sebagai ketua RT”. Saya tahu persis namanya, akan maling di mana, dan dengan tujuan apa”, dengan nada sangat meyakinkan. Pak Salim kelihatan mencoba menebak untuk mengetahui duduk perkaranya, tapi ia mengusahakan tidak seperti orang tolol yang tak tahu persoalan. Dari tercenung, ia kemudian manggut-manggut. Pak Imron, sang tuan rumah tak kalah sikapnya dari Pak Salim. Ia ambil buku kecilnya, terus mencatat. Hanya beberapa warga, seperti Pak Sadli dan teman-temannya yang bingung dan tak malu menampakkan kebingungannya. “Kok bisa, ya Pak RT ngomong begitu di depan warga? Apa ga bikin resah nantinya? Kalau sudah tahu, ya kenapa ga didatangi aja si calon malingnya daripada menebar berita ramalan ke khalayak warga RT?”, begitulah sejumlah pertanyaan yang berkecamuk di fikiran Pak Sadli.
Ya, memang Pak RT bukanlah Pak Sadli. Pak RT tidak boleh sembarangan, tanpa dasar hukum yang jelas, mendatangi si calon maling dan menuduhnya. Ia bisa kena pasal pencemaran nama baik. Pak RT tahu persis bagaimana bersikap aman di jaman demokrasi seperti saat ini. Mendingan ia pergunakan upaya yang lebih elegan melalui forum. Pertama, ia perlu menyampaikan pesan kepada warga bahwa sebagai ketua RT, ia orang yang sangat memperhatikan keamanan lingkungan. Sekecil apapun potensi ketidak-amanan harus diwaspadai. Itulah gunanya Pak Salim, sebagai hansip. Kedua, ia perlu menyampaikan peringatan kepada calon maling bahwa ia mengetahui niat si calon maling dan jangan berani-berani mencoba menurunkan wibawa Pak RT di depan warga. Ia bisa kehilangan legitimasi sebagai ketua RT dan ia tidak mau itu terjadi. Maka peringatan dini harus disampaikan. Seluruh warga akan berdiri di belakang Pak RT. Begitu pikirnya. Kelihatannya, ia sangat yakin sekaligus takut, jika benar si calon maling melaksanakan niatnya.
Satu hal yang ia lupa lakukan. Ia semestinya mengajak orang seperti Pak Sadli bicara, orang yang kelihatannya diam, namun punya kelugasan bersikap dan jujur berfikir. Tanpa diketahui Pak RT, Pak Sadli, habis bubaran rembug warga, bicara dengan beberapa warga yang sepaham. ”Aku khawatir, eh”, begitu ia memulai pembicaraan. ”Khawatir apa?”, yang lain menyela. ”Begini, apa nanti Pak RT ga jadi serba salah? Pertama, kalau benar ada maling malam minggu depan, apa ia ga disalahkan. Wong, sudah tahu bakal ada maling, kok didiamkan. Kedua, kalau ternyata ga ada maling, bagaimana ia menyusun cerita penjelasan. Apa ia bisa menjelaskan ke warga, misalnya, malingnya jadi takut atau insaf setelah ada maklumat mengenai hal itu di forum? Atau ternyata bisikan info dari Pak hansip tidak akurat. Atau kalau misalnya benar ada maling dan malingnya tertangkap, apa warga percaya bahwa ini bukan sandiwara. Saat ini, kan jaman orang bikin agenda untuk kepentingan dirinya?”. Wow, kali ini yang mendengar Pak Sadli jadi manggut-manggut mendengar penuturannya. Salah satu malah ada yang nyeletuk ”Pak Sadli ini udah sekaliber, lho dengan para nara sumber di stasiun televisi di Jakarta. Hebat”. Akhirnya semua sepakat untuk melihat ini sebagai upaya untuk meningkatkan kewaspadaan daripada menghembuskan syak wasangka di antara sesama warga.