“Aaal hamdulillaaah, panjang umur dan murah rejeki, Pak”, begitu ia biasa berucap dan berdoa sebagai ungkapan rasa terima kasihnya pada aku dan orang lain yang melemparkan uang recehan ke “jaring sumbangan”. Tawanya renyah, senyumnya tulus, ucapannya santun, sanggup mengobati kegundahan manusia yang setiap hari dijejali sampah informasi permasalahan dunia yang mengalir bagai air bah. Benar, suweer, aku berjanji. Kalau kalian gundah, datanglah padanya sambil melempar uang seribuan ke jaring itu, ia akan mengobati kegundahan hati kalian dengan obat senyum dan tawanya. Nyees, begitu rasanya.
Namanya Ahmad Shodik. Ia jamaah masjid dekat rumahku, maksudnya rumah orang lain di mana setiap malam aku tidur. Setiap pagi ba’da shubuh ia sudah berdiri di jalan dengan topi lebar dan jaring sumbangannya. Ia berada di ujung barat masjid yang sedang dipugar. Sedang kakaknya berdiri di ujung jalan yang lain. Setiap jalan pagi dan berangkat ke kantor aku selalu melewati keduanya. Biasanya aku menepuk punggung keduanya bergiliran. Dan lalu mereka akan menghidangkan sarapan “keramahtamahan” alami dengan sapaan ”olah raga, pak? Atau “berangkat kerja, pak?”. Ya, sesekali aku melemparkan uang recehan ke jaring sumbangan di tangan mereka.
Namun, sudah 4 hari ini, aku menyadari ada yang hilang dari pandanganku. Pak Ahmad tidak kelihatan. Ia digantikan oleh temannya. Aku mendapatkan jawabannya pagi ini. Saat melewati kakaknya di ”tempat mangkalnya”, kakaknya mengulurkan tangan untuk bersalaman. Wajahnya serius. Begitu kami bersalaman, ia berujar padaku ”Pak, maafkan saudaraku, Ahmad. Ia berpulang kepada-NYA kemarin, setelah 3 hari di rumah sakit”. Mulutku langsung otomatis mengucap ”Innaa lillaahi wainnaa ilaihi raaji’uun”.
Entah kenapa aku merasakan kehilangan yang sangat. Mungkin aku kehilangan sosok atau role model ”berbuat baik itu murah, mudah dan sederhana”. Ambil peran sekecil apapun peran itu. Jalani dengan sepenuh hati. Penuhi tindakan dengan sikap kemanusiaan yang luhur. Maka itu akan bercahaya.
Ya, aku merasakan cahaya yang memancar dari wajahnya. Aku ingat persis detil raut mukanya, ketika menyapa ”customer” nya. Otot mukanya begitu lentur, tak dipaksakan. Efeknya dahsyat. Keramahan yang berkualitas; jauh lebih berkualitas dari para petugas hotel di negeri ini, singapura, thailand atau malaysia yang pernah aku temui. Sayangnya, aku ga sempat bercakap-cakap lama untuk lebih mengenalnya lebih mendalam. Ia lebih dulu menghadap Ilahi.
Atau, barangkali sebagai role model, kedekatan yang tidak dekat itu rasanya cukup. Aku harus merasa cukup mengintip satu sisi darinya sebagai representasi yang perlu aku tiru. Mungkin sisi yang lain justeru akan melemahkan sisi-sisi yang aku kagumi.
Terima kasih, Tuhan. Engkau sudah hadirkan contoh kasat mata tentang kebaikan. Ampuni segala kesalahan dan dosa Pak Ahmad, Ya Rabbie. Amien.