Nama mbak Atun cukup melekat dalam ingatan tentang masa kecilku. Aku ingat, tiap hari ia jalan keliling kampung dari satu gang ke gang lain; menyapa hampir tiap orang yang ia temui; mengajak senyum dan bercerita dengan lancar apa yang ia alami di hari itu. Ia bahkan kadang memberikan uang receh 5 rupiah-an kepada anak-anak kecil yang memintanya. Kelihatannya ia tak memiliki beban hidup sama sekali; tertawa lepas, tak pernah merengut dan bersedih. Semua orang nampaknya akan sepakat bahwa ia orang yang supel, pandai bergaul, dan dermawan; andai saja orang tidak tahu penyakit yang ia derita.
Sayangnya, orang-orang tahu bahwa ia tak waras, sampai-sampai tak mau mengurus badannya sendiri. Aku nggak tahu kapan ia terakhir kali mandi.
++++++++
Simak paragraf-paragraf di atas. Siapa mbak Atun, jika Anda membaca paragraf pertama tanpa kalimat terakhir? Dan siapa dia, jika Anda membaca seluruh paragraf?
++++++++
Setiap hari, mata kita melahap ribuan paragraf kata. Fikiran kita mencerna ratusan makna. Sebagian makna memperkaya identititas orang-orang di percaturan atau ruang publik kita, namun sebagiannya malah membuatnya makin kabur.
Dani Ahmad sedang mencari istri di televisi; apa maknanya?
Artis lain siap menjadi calon isteri anak bekas menteri; apa maksudnya?
Seorang pejabat menjadi tersangka; apa jadinya?
Seorang bajingan (bekas) gagah tampil di muka; tanda-tanda apa ini?
Ribuan paragraf bisa membuat kita angkat topi; tanda hormat pada seseorang. Ribuan paragraf lainnya membuat kita ingin mencercanya. Sisa paragraf lainnya membuat kita makin bingung atas realita di sekeliling kita. Kok bisa?
Bagaimana mungkin sikap hormat dan sumpah serapah muncul hanya dari konstruksi kata? Bagaimana mungkin kesadaran dan kebingungan itu muncul setelah membaca berita? Apakah itu berarti konstruksi kata dan berita adalah realita kita? Kalau ya, alangkah murahnya.
Jika sikap timbul setelah pemaknaan. Dan makna timbul dari konstruksi kata. Maka konstruksi kata memang bisa membangun realita. Namun, sepasif itukah sikap pembaca?
Ada makna yang as is sesuai dengan logika dan kaidah bahasa.
Ada makna yang timbul karena pamahaman konteks yang ada.
Namun, sebagiannya muncul karena kerangka fikir dan opini yang sudah melekat di kepala kita.
Siapa yang membangun kerangka fikir dan opini kita atas realita?
- Media
- Kita sendiri dengan segala pengalaman dan latar belakang sosial serta pendidikan kita
++++++++
Dan di hari-hari ke depan
Kita masih akan melahap paragraf-paragraf yang semakin membingungkan fikiran kita tentang wajah-wajah ideal yang kita dambakan
Tentang cicak
Tentang buaya
Tentang monster
Ada tersirat harapan kecil munculnya cerita si komo yang akan lebih menghibur batin dan mental kita ke depan
We just hope…
Dan jika paragraf-paragraf di atas makin membuat bingung Anda, rekan sekalian
Mohon kiranya Anda memaafkan aku yang sejatinya lagi bingung sebingung-bingungnya tentang cicak dan buaya itu